I don't want to be
Anything other than what I've been trying to be lately
All I have to do
Is think of me and I have peace of mind
I'm tired of looking 'round rooms
Wondering what I've got to do
Or who I'm supposed to be
I don't want to be anything other than me
Taken from Gavin Mc Graw ( "I dont want to be")
Selasa, 23 September 2008
Ketika si bau kencur merasa gagal
Makin lama makin gue perhatiin kok tulisan blog gue semua panjang-panjang ya?
Copywriter senior gue juga berpendapat begitu.
Temen-temen gue juga berpendapat begitu.
Art Director wannabe (maksud gue temen magang) gue juga berpendapat begitu.
Seorang art director dari agency lain juga berpendapat begitu.
Nyokab gue juga berpendapat begitu.
Gue pun berpendapat begitu.
Gue punya kebiasaan menulis dengan panjang. Padahal gue nggak mau juga nulis panjang-panjang. Gue jutru pecinta tulisan pendek, yang ringkas, padat, dan jelas. Tapi kenapa gue ga bisa nulis pendek ya? Walah-walah, there must be something wrong with me.
Aaaaaaaaarrrggghhh, still need to learn to make a short copy.
Copywriter senior gue juga berpendapat begitu.
Temen-temen gue juga berpendapat begitu.
Art Director wannabe (maksud gue temen magang) gue juga berpendapat begitu.
Seorang art director dari agency lain juga berpendapat begitu.
Nyokab gue juga berpendapat begitu.
Gue pun berpendapat begitu.
Gue punya kebiasaan menulis dengan panjang. Padahal gue nggak mau juga nulis panjang-panjang. Gue jutru pecinta tulisan pendek, yang ringkas, padat, dan jelas. Tapi kenapa gue ga bisa nulis pendek ya? Walah-walah, there must be something wrong with me.
Aaaaaaaaarrrggghhh, still need to learn to make a short copy.
Minggu, 21 September 2008
Art of Advertising
"The Art of Advertising is about reduction, the ability to write less and say more."
Selasa, 16 September 2008
Kalau bukan kita siapa lagi?
Setelah gue inget-inget, dari kecil gue memang sudah dikaruniai kemampuan menghibur diri sendiri. Dan sedikit banyak gue bersyukur sama kemampuan luar biasa ini, hehehe. Menurut gue luar biasa karena nggak setiap orang bisa menghibur dirinya sendiri. Kalo nggak ada yang bisa menghibur kita dikala hati sedih, resah dan marah, ya kita hibur aja sendiri. Minimal itu prinsip gue.
Gue inget dulu waktu SMP gue pernah jadi ketua OSIS di sekolah gue. Wah, rasanya waktu itu bangga bukan main. Banggalah secara dipilihnya lewat pemilihan suara. Artinya temen-temen suka sama gue, artinya gue punya banyak temen, banyak pendukung. Seneng banget rasanya tahu kalo ternyata kita disenangi hampir semua orang di sekitar kita. Dan untuk ukuran anak SMP zaman dulu masuk OSIS itu kebanggaan tersendiri. Apalagi jadi ketuanya, nah bisa kebayang kan senangnya gue waktu itu?
Jujur awalnya gue nggak tahu apapun tentang Ketua OSIS, yang gue tau cuma 'Wah, kayanya keren nih kalo gue jadi ketua OSIS.' Ya, parah memang. Jadi gue pengen masuk OSIS karena embel-embel kerennya doang. Gue bahkan nggak tau apa tugasnya Ketua OSIS. Gue pikir ketua ya cuma ketua. Tugasnya ongkang-ongkang kaki nunggu laporan dari anak buah, beres. Tapi ternyata dugaan gue salah. Justru jadi ketua itu nggak mudah, apalagi kalo anak buahnya adalah sekumpulan anak-anak SMP yang juga bau kencur nggak tahu apa-apa. Gimana mau nunggu laporan kalo ternyata anak buah gue juga sama bodohnya kaya gue, nggak tahu apa yang harus dikerjain. Nah, dari sanalah upaya gue menghibur diri sendiri mulai berlangsung. Gue banyak melakukan kekacauan selama gue jadi Ketua OSIS. Dan sepertinya kepala sekolah gue nggak pernah suka dengan apapun yang gue lakukan. Kebetulan kepala sekolah gue, Bu Ratna adalah orang yang sangat tegas, disiplin (baca galak dan banyak mau). Satu sekolah udah mengakui hal itu. Jadilah gue sering ditegur sama dia. Ya kalo ditegur secara baik-baik sih gue nggak masalah, tapi kalo tegurnya untuk menuju ke gertakan, gue agak shock juga. Terlebih kalo digertak di depan satu sekolah. Walah, mau ditaruh kemana lagi muka gue?
Pernah sekali waktu, gue ditegur waktu upacara sekolah. Dan biasanya upacara di sekolah gue itu memang gabungan. Jadi sekalinya diadakan upacara, satu lapangan penuh sama anak SMP dan juga SMA. Nah, ya saudara-saudari, disanalah gue digertak. Gue inget banget suasanya saat itu. Hening, nggak ada suara. Cuma suara Bu Ratna yang terdengar, makin lama makin keras, suara itu menusuk kekedalaman paling dalam jantung seorang jenny kecil. Gila, gue nggak pernah nyangka bisa ditegur ditengah-tengah amanat pembina upacara. Gue pikir palingan Bu Ratna cuma akan mencomplain beberapa kelakuan murid yang nggak dia suka. Karena biasanya memang begitu amanatnya. Setiap amanat pembina upacara, pasti selalu saja ada hal-hal yang dicomplain Bu Ratna, mengingat dia memang selalu jadi pembina upacara di hampir setiap upacara bendera. Gue masih ingat kata-katanya hari itu.
"Kamu jadi ketua kok nggak becus! Ini program udah saya tunggu-tunggu. Tapi mana? Jadi ketua kok nggak bisa ngurus anak buah. Kamu pikir jadi ketua itu ngapain emang? Cuma seneng-seneng?Kalo ketuanya bodoh kaya kamu, gimana anak buahnya?" jreggggggggggggg, jantung gue berdetak nggak karuan. Satu lapangan hening. Bener-bener hening. Muka gue merah padam, sejujurnya gue agak marah kenapa dia mesti menegur gue dihadapan orang sebanyak itu. Walah, malah ada kakak kelas gebetan gue disana. Hancur sudahlah image gue. Sekilas gue sempet melihat muka-muka prihatin temen gue. Nggak cuma temen, beberapa guru pun melirik kasian ke gue. Mungkin mereka pikir gue memang kebetulan sial disamber Bu Ratna kaya begini karena mood nya Bu Ratna lagi jelek. Bukan rahasia lagi memang, seantero sekolah paham betul gelagat-gelagat Bu Ratna. Kalo lagi badmood pasti satu sekolah kena imbas. Guru-guru pun kena, tak terkecuali.
Gila, gue nggak pernah membayangkan akan ada kejadian seperti ini dimana gue ditegur secara keras di hadapan satu antero sekolah. Gue malu, maluuuuuuuuu bangettt. Malu bercampur sedih. Sedih bercampur marah. Marah bercampur kecewa. Ya memang campur-campur rasanya. Setiap kalimat Bu Ratna hari itu selalu terngiang dalam otak gue.
Buat gue yang waktu itu baru 13 tahun, itu pukulan yang lumayan berat. Gue sempet mikir, apa bener ya gue ketua yang nggak becus? Apa bener gue bodoh? Bagaimana tanggapan temen-temen gue mengenai hal ini? Apa mereka akan berpikir hal yang sama? Jangan-jangan mereka tertawa di belakang gue. Jangan-jangan mereka nggak mau lagi temenan sama gue. Bla...bla..bla...Segala macam pikiran negatif campur-campur nggak karuan di otak gue. Ya mungkin memang gue yang kelewat manja. Sebelumnya gue memang nggak pernah dapat teguran sekeras itu. But you know what, I learn to cheer up my self.
Pulangnya, gue lesu banget. Sampai bokap nyokab gue bingung liat muka gue yang kecut banget. Gue pengen ngadu sama mereka tapi keburu gengsi karena nggak mau dianggap anak kecil yang nggak sanggup nerima pukulan (gila, dari zaman bocah-bocahnya gue emang banci gengsi). Dan akhirnya gue mulai menciptakan skenario sendiri dalam otak gue untuk menghibur diri sendiri. Gue membayangkan diri gue sedang berada di pantai, di pantai yang sepi. Disana gue rileks sambil ditemani Johnny Depp (maklum dari zaman dulu gue emang udah cinta sama makhluk ini). Trus sambil menikmati keindahan di pantai itu, gue melihat Bu Ratna yang lagi berlari ketakutan dengan baju compang camping karena dikejar hiu lapar. Dia minta-minta tolong sama gue. Tapi gue cuma tertawa. Selain dikejar hiu, dia juga dikejar cumi raksasa. Bu Ratna berteriak minta tolong. Dia tampak ketakutan. Dia nangis-nangis minta maaf nggak akan ngomelin gue lagi asalkan gue mau nolong dia. Hahahaha, dan ternyata gue cuma tertawa ngakak. Dengan gaya angkuh, gue bilang 'apa yang kamu tanam itulah yang kamu petik. Siapa suruh tadi ibu marahin saya, sekarang mampus ibu kena getahnya.' Yayaya, ini memang pembalasan dendam yang agak brutal. Tapi toh pada akhirnya gue berhasil tersenyum lagi dengan imaginasi gue barusan. Gue tersenyum dengan apa yang gue pikirkan dalam otak gue tadi. Kedengarannya memang kejam, tapi sekali lagi ini kan cuma imaginasi. Gue nggak mau down terus-terusan gara-gara gertakan sialan tadi. Makanya gue cari penghiburan sendiri and it works ternyata,hehehehe.
Somehow gue merasa imaginasi adalah jalan terbaik untuk menghibur diri gue. Kadang kenyataan yang ada didepan kita terlalu kabur dan ruwet. Memang sih imaginasi nggak akan menyelesaikan masalah. Ada yang bilang 'we cannot run away from reality as we cannot run away from our shadow.' Tapi kita kan ada kalanya kita bisa menyembunyikan bayangan itu untuk sementara waktu,hehehe (maksa ya?). Ya, intinya gue cuma mau bilang kita berhak menghibur diri kita sendiri apapun caranya selama itu tidak menyakiti orang. Kalau bukan kita siapa lagi?
Gue inget dulu waktu SMP gue pernah jadi ketua OSIS di sekolah gue. Wah, rasanya waktu itu bangga bukan main. Banggalah secara dipilihnya lewat pemilihan suara. Artinya temen-temen suka sama gue, artinya gue punya banyak temen, banyak pendukung. Seneng banget rasanya tahu kalo ternyata kita disenangi hampir semua orang di sekitar kita. Dan untuk ukuran anak SMP zaman dulu masuk OSIS itu kebanggaan tersendiri. Apalagi jadi ketuanya, nah bisa kebayang kan senangnya gue waktu itu?
Jujur awalnya gue nggak tahu apapun tentang Ketua OSIS, yang gue tau cuma 'Wah, kayanya keren nih kalo gue jadi ketua OSIS.' Ya, parah memang. Jadi gue pengen masuk OSIS karena embel-embel kerennya doang. Gue bahkan nggak tau apa tugasnya Ketua OSIS. Gue pikir ketua ya cuma ketua. Tugasnya ongkang-ongkang kaki nunggu laporan dari anak buah, beres. Tapi ternyata dugaan gue salah. Justru jadi ketua itu nggak mudah, apalagi kalo anak buahnya adalah sekumpulan anak-anak SMP yang juga bau kencur nggak tahu apa-apa. Gimana mau nunggu laporan kalo ternyata anak buah gue juga sama bodohnya kaya gue, nggak tahu apa yang harus dikerjain. Nah, dari sanalah upaya gue menghibur diri sendiri mulai berlangsung. Gue banyak melakukan kekacauan selama gue jadi Ketua OSIS. Dan sepertinya kepala sekolah gue nggak pernah suka dengan apapun yang gue lakukan. Kebetulan kepala sekolah gue, Bu Ratna adalah orang yang sangat tegas, disiplin (baca galak dan banyak mau). Satu sekolah udah mengakui hal itu. Jadilah gue sering ditegur sama dia. Ya kalo ditegur secara baik-baik sih gue nggak masalah, tapi kalo tegurnya untuk menuju ke gertakan, gue agak shock juga. Terlebih kalo digertak di depan satu sekolah. Walah, mau ditaruh kemana lagi muka gue?
Pernah sekali waktu, gue ditegur waktu upacara sekolah. Dan biasanya upacara di sekolah gue itu memang gabungan. Jadi sekalinya diadakan upacara, satu lapangan penuh sama anak SMP dan juga SMA. Nah, ya saudara-saudari, disanalah gue digertak. Gue inget banget suasanya saat itu. Hening, nggak ada suara. Cuma suara Bu Ratna yang terdengar, makin lama makin keras, suara itu menusuk kekedalaman paling dalam jantung seorang jenny kecil. Gila, gue nggak pernah nyangka bisa ditegur ditengah-tengah amanat pembina upacara. Gue pikir palingan Bu Ratna cuma akan mencomplain beberapa kelakuan murid yang nggak dia suka. Karena biasanya memang begitu amanatnya. Setiap amanat pembina upacara, pasti selalu saja ada hal-hal yang dicomplain Bu Ratna, mengingat dia memang selalu jadi pembina upacara di hampir setiap upacara bendera. Gue masih ingat kata-katanya hari itu.
"Kamu jadi ketua kok nggak becus! Ini program udah saya tunggu-tunggu. Tapi mana? Jadi ketua kok nggak bisa ngurus anak buah. Kamu pikir jadi ketua itu ngapain emang? Cuma seneng-seneng?Kalo ketuanya bodoh kaya kamu, gimana anak buahnya?" jreggggggggggggg, jantung gue berdetak nggak karuan. Satu lapangan hening. Bener-bener hening. Muka gue merah padam, sejujurnya gue agak marah kenapa dia mesti menegur gue dihadapan orang sebanyak itu. Walah, malah ada kakak kelas gebetan gue disana. Hancur sudahlah image gue. Sekilas gue sempet melihat muka-muka prihatin temen gue. Nggak cuma temen, beberapa guru pun melirik kasian ke gue. Mungkin mereka pikir gue memang kebetulan sial disamber Bu Ratna kaya begini karena mood nya Bu Ratna lagi jelek. Bukan rahasia lagi memang, seantero sekolah paham betul gelagat-gelagat Bu Ratna. Kalo lagi badmood pasti satu sekolah kena imbas. Guru-guru pun kena, tak terkecuali.
Gila, gue nggak pernah membayangkan akan ada kejadian seperti ini dimana gue ditegur secara keras di hadapan satu antero sekolah. Gue malu, maluuuuuuuuu bangettt. Malu bercampur sedih. Sedih bercampur marah. Marah bercampur kecewa. Ya memang campur-campur rasanya. Setiap kalimat Bu Ratna hari itu selalu terngiang dalam otak gue.
Buat gue yang waktu itu baru 13 tahun, itu pukulan yang lumayan berat. Gue sempet mikir, apa bener ya gue ketua yang nggak becus? Apa bener gue bodoh? Bagaimana tanggapan temen-temen gue mengenai hal ini? Apa mereka akan berpikir hal yang sama? Jangan-jangan mereka tertawa di belakang gue. Jangan-jangan mereka nggak mau lagi temenan sama gue. Bla...bla..bla...Segala macam pikiran negatif campur-campur nggak karuan di otak gue. Ya mungkin memang gue yang kelewat manja. Sebelumnya gue memang nggak pernah dapat teguran sekeras itu. But you know what, I learn to cheer up my self.
Pulangnya, gue lesu banget. Sampai bokap nyokab gue bingung liat muka gue yang kecut banget. Gue pengen ngadu sama mereka tapi keburu gengsi karena nggak mau dianggap anak kecil yang nggak sanggup nerima pukulan (gila, dari zaman bocah-bocahnya gue emang banci gengsi). Dan akhirnya gue mulai menciptakan skenario sendiri dalam otak gue untuk menghibur diri sendiri. Gue membayangkan diri gue sedang berada di pantai, di pantai yang sepi. Disana gue rileks sambil ditemani Johnny Depp (maklum dari zaman dulu gue emang udah cinta sama makhluk ini). Trus sambil menikmati keindahan di pantai itu, gue melihat Bu Ratna yang lagi berlari ketakutan dengan baju compang camping karena dikejar hiu lapar. Dia minta-minta tolong sama gue. Tapi gue cuma tertawa. Selain dikejar hiu, dia juga dikejar cumi raksasa. Bu Ratna berteriak minta tolong. Dia tampak ketakutan. Dia nangis-nangis minta maaf nggak akan ngomelin gue lagi asalkan gue mau nolong dia. Hahahaha, dan ternyata gue cuma tertawa ngakak. Dengan gaya angkuh, gue bilang 'apa yang kamu tanam itulah yang kamu petik. Siapa suruh tadi ibu marahin saya, sekarang mampus ibu kena getahnya.' Yayaya, ini memang pembalasan dendam yang agak brutal. Tapi toh pada akhirnya gue berhasil tersenyum lagi dengan imaginasi gue barusan. Gue tersenyum dengan apa yang gue pikirkan dalam otak gue tadi. Kedengarannya memang kejam, tapi sekali lagi ini kan cuma imaginasi. Gue nggak mau down terus-terusan gara-gara gertakan sialan tadi. Makanya gue cari penghiburan sendiri and it works ternyata,hehehehe.
Somehow gue merasa imaginasi adalah jalan terbaik untuk menghibur diri gue. Kadang kenyataan yang ada didepan kita terlalu kabur dan ruwet. Memang sih imaginasi nggak akan menyelesaikan masalah. Ada yang bilang 'we cannot run away from reality as we cannot run away from our shadow.' Tapi kita kan ada kalanya kita bisa menyembunyikan bayangan itu untuk sementara waktu,hehehe (maksa ya?). Ya, intinya gue cuma mau bilang kita berhak menghibur diri kita sendiri apapun caranya selama itu tidak menyakiti orang. Kalau bukan kita siapa lagi?
Senin, 15 September 2008
kala avanza dan monokorobo diadu
Lama nggak ngajar, tiba-tiba gue kangen pengen ngajar lagi. Kangen pengen ketemu murid-murid gue.Kangen denger celotehan-celotehan lucu mereka. Kangen melihat mata-mata excited mereka setiap kali gue mulai mendongengkan cerita buat mereka. Gue kangen murid-murid gue.
Oh ya, sebelumnya biar gue jelaskan dulu, gue sempet jadi guru TK dan anak kecil di sebuah sekolah kursus bahasa. Murid- murid gue kebanyakan anak TK, ada beberapa yang udah SD dan SMP, tapi kebanyakan TK.
Sejujurnya buat gue ngajar anak TK itu menyenangkan. Selalu ada hal-hal baru yang menarik perhatian gue setiap gue ngajar anak TK. Mereka membuka mata gue dengan kelucuan, kepolosan dan kebandelan mereka. Iya, kadang gue mengakui kalo mereka bisa jadi masalah kalo lagi terlewat hyper. Gue punya beberapa murid yang memang kelewat aktif dan setiap di kelas mereka nggak pernah bisa diam. Ya, kalo nggak bisa diamnya cuma sebatas nggak berhenti ngoceh sih nggak masalah buat gue. Justru gue seneng liat anak kecil ngoceh,hehehehe. Berbeda dengan guru-guru lain di tempat kursus, gue justru sama sekali nggak melarang kalo murid gue mendadak jadi lebih bawel dan berceloteh terus nggak berhenti. Gue membiarkan mereka bercerita, walaupun kadang kalo didenger cerita mereka kebanyakan diulang-ulang dan kalo makin lama didenger makin nggak nyambung ceritanya. Tapi yeah, that's kids. Gue justru suka ketawa sendiri kalo denger celotehan-celotehan mereka yang nggak ada ujung depannya itu. Gue membiarkan mereka berceloteh dengan imaginasi mereka, dengan apa yang ada didalam otak mereka. Buat gue, agak kejam rasanya kalo gue mendiamkan mereka untuk duduk manis 1.5 jam terus mendengarkan kelas gue, padahal mereka anak kecil. Anak kecil yang selalu excited dan sibuk menceritakan setiap hal yang menarik perhatian mereka. Gue nggak mau membatasi imaginasi mereka, gue nggak mau membunuh impian-impian kecil mereka dan yang paling menyulitkan, gue nggak pengen merusak kepolosan mereka dengan teguran-teguran khas kebanyakan orang dewasa yang pada akhirnya justru membuat mereka tumbuh dalam sudut pandang yang negatif. They're kids, they're deserved to be happy.
Pernah waktu itu ada dua murid gue yang berantem di kelas. Dan saat itu gue berpura-pura untuk tidak mendengarkan mereka. Kalo dipikir-pikir anak kecil kalo lagi berantem itu lucu juga ya. Dan karena nggak mau ketinggalan adegan berkesan itu, gue pun memilih untuk diam sambil memeriksa beberapa buku berpura-pura nggak tahu kalo mereka lagi berantem.
"Aku musuan sama kamu. Aku nggak mau lagi temenan sama kamu." ujar Evelyn salah satu murid gue sembari menghembuskan jari telunjuknya. Kalo diperagakan itu memang lambang kenegaraan setiap anak kecil yang menyatakan permusuhan.
"Aku juga nggak mau lagi temenan sama kamu..Mendingan aku temenan sama monokorobo!" sahut Nia nggak mau kalah. Setau gue monokorobo itu adalah boneka-boneka babi asal jepang yang belakangan lagi jadi trend untuk anak kecil. Gue masih diam, belum mendamaikan mereka. Hehehehe, panggil gue guru aneh, tapi menurut gue tontonan seperti ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
"Ahhh, cuma monokorobo aja...Papaku beliin aku avanza. Hayo, kerenan mana sama Monokorobo?" balas Evelyn sengit. Wah, makin seru aja perdebatan mereka. Hahahaha, gue pengen ngakak sejujurnya. Bisa-bisanya Evelyn membandingkan mainan monokrobo sama mobil avanza. Nah, sekarang mulai keliatan kan kalo anak kecil mudah sekali terpengaruh, sebagai bukti ya Evelyn dan Nia ini. Dua-duanya berlomba-lomba adu pamer. Walah-walah darimana mereka belajar seperti ini? Anak TK pun sudah adu pamer. Gue menggeleng-geleng, jadi prihatin rasanya.
"Nggak...Bagusan juga monokorobo. Itu lucu tauk!" kali ini nada suara Nia lebih tinggi. Baru kali ini gue melihat seekor monorobo ditandingkan sama mobil avanza. Hahahaha. Lucunya, Nia justru ngotot kalo monorobonya lebih lucu dari avanza. Dan keduanya nggak berhenti adu mulut membandingkan monokorobo dan mobil avanza. Nia dari kubu Monokorobo, dan evelyn dari kubu Avanza. Makin lama, dua anak ini makin panas. Kali ini, gue sempet liat mata evelyn mulai sedikit berkaca-kaca. Walah-walah, ribet nih jadinya kalo udah nangis.
Daripada ributnya jadi berkepanjangan gue pun mendamaikan keduanya. Khas guru-guru bijak (sok bijak tepatnya,haha), gue pun lalu memanggil keduanya kedepan. Gue mencoba membela keduanya supaya nggak ada yang merasa dianaktirikan. Baik monokorobo dan avanza, gue bilang dua-duanya itu lucu, dua-duanya hebat. Sama persis kaya Nia dan Evelyn, dua-duanya anak hebat. Lebih hebat lagi kalo mereka baikan dan temenan lagi. Ditambah dengan sejumlah wejangan-wejangan bla bla bla bla, gue coba mendamaikan mereka. Dan lucunya adalah mereka memang langsung salaman, baikan lagi. Tanpa ada embel-embel gengsi. Balik ketempat duduk, gue liat Evelyn dan Nia justru udah bergandengan tangan, akrab kaya kakak adik. Keduanya udah baikan lagi jadi temen. Dalam hati gue mikir, ya ampun anak kecil emang nggak punya problema. Coba kalo itu yang terjadi sama orang dewasa, rasanya susah banget bisa liat ada yang baikan dalam waktu secepat itu. Masing-masing punya ego sendiri, masing-masing punya kesombongan sendiri. Dan menurut mereka berdamai dengan cepat justu merusak ego mereka. Nah, sekarang keliatan kan bedanya anak kecil dan orang dewasa? Dalam hal ini, anak kecil jauh lebih unggul. Mereka lebih polos, lugu, nggak peduli gengsi dan mereka pecinta damai,hehehehe. Ini baru sebagian aja dari cerita gue tentang pengalaman gue ngajar di kelas TK. Kalo ditulisin semua, kayanya lebih pas kalo tulisan gue itu dibuat dalam chapter-chapter khusus,hehehe. Pasalnya memang banyak banget yang menarik untuk ditulisa dari mereka. Banyak banget ulah-ulah mereka yang membuat gue belajar sesuatu, dan gue selalu merasa damai kalo gue ada dideket-deket mereka. Yeah, kids are alwways wonderful, aren't they?
Oh ya, sebelumnya biar gue jelaskan dulu, gue sempet jadi guru TK dan anak kecil di sebuah sekolah kursus bahasa. Murid- murid gue kebanyakan anak TK, ada beberapa yang udah SD dan SMP, tapi kebanyakan TK.
Sejujurnya buat gue ngajar anak TK itu menyenangkan. Selalu ada hal-hal baru yang menarik perhatian gue setiap gue ngajar anak TK. Mereka membuka mata gue dengan kelucuan, kepolosan dan kebandelan mereka. Iya, kadang gue mengakui kalo mereka bisa jadi masalah kalo lagi terlewat hyper. Gue punya beberapa murid yang memang kelewat aktif dan setiap di kelas mereka nggak pernah bisa diam. Ya, kalo nggak bisa diamnya cuma sebatas nggak berhenti ngoceh sih nggak masalah buat gue. Justru gue seneng liat anak kecil ngoceh,hehehehe. Berbeda dengan guru-guru lain di tempat kursus, gue justru sama sekali nggak melarang kalo murid gue mendadak jadi lebih bawel dan berceloteh terus nggak berhenti. Gue membiarkan mereka bercerita, walaupun kadang kalo didenger cerita mereka kebanyakan diulang-ulang dan kalo makin lama didenger makin nggak nyambung ceritanya. Tapi yeah, that's kids. Gue justru suka ketawa sendiri kalo denger celotehan-celotehan mereka yang nggak ada ujung depannya itu. Gue membiarkan mereka berceloteh dengan imaginasi mereka, dengan apa yang ada didalam otak mereka. Buat gue, agak kejam rasanya kalo gue mendiamkan mereka untuk duduk manis 1.5 jam terus mendengarkan kelas gue, padahal mereka anak kecil. Anak kecil yang selalu excited dan sibuk menceritakan setiap hal yang menarik perhatian mereka. Gue nggak mau membatasi imaginasi mereka, gue nggak mau membunuh impian-impian kecil mereka dan yang paling menyulitkan, gue nggak pengen merusak kepolosan mereka dengan teguran-teguran khas kebanyakan orang dewasa yang pada akhirnya justru membuat mereka tumbuh dalam sudut pandang yang negatif. They're kids, they're deserved to be happy.
Pernah waktu itu ada dua murid gue yang berantem di kelas. Dan saat itu gue berpura-pura untuk tidak mendengarkan mereka. Kalo dipikir-pikir anak kecil kalo lagi berantem itu lucu juga ya. Dan karena nggak mau ketinggalan adegan berkesan itu, gue pun memilih untuk diam sambil memeriksa beberapa buku berpura-pura nggak tahu kalo mereka lagi berantem.
"Aku musuan sama kamu. Aku nggak mau lagi temenan sama kamu." ujar Evelyn salah satu murid gue sembari menghembuskan jari telunjuknya. Kalo diperagakan itu memang lambang kenegaraan setiap anak kecil yang menyatakan permusuhan.
"Aku juga nggak mau lagi temenan sama kamu..Mendingan aku temenan sama monokorobo!" sahut Nia nggak mau kalah. Setau gue monokorobo itu adalah boneka-boneka babi asal jepang yang belakangan lagi jadi trend untuk anak kecil. Gue masih diam, belum mendamaikan mereka. Hehehehe, panggil gue guru aneh, tapi menurut gue tontonan seperti ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
"Ahhh, cuma monokorobo aja...Papaku beliin aku avanza. Hayo, kerenan mana sama Monokorobo?" balas Evelyn sengit. Wah, makin seru aja perdebatan mereka. Hahahaha, gue pengen ngakak sejujurnya. Bisa-bisanya Evelyn membandingkan mainan monokrobo sama mobil avanza. Nah, sekarang mulai keliatan kan kalo anak kecil mudah sekali terpengaruh, sebagai bukti ya Evelyn dan Nia ini. Dua-duanya berlomba-lomba adu pamer. Walah-walah darimana mereka belajar seperti ini? Anak TK pun sudah adu pamer. Gue menggeleng-geleng, jadi prihatin rasanya.
"Nggak...Bagusan juga monokorobo. Itu lucu tauk!" kali ini nada suara Nia lebih tinggi. Baru kali ini gue melihat seekor monorobo ditandingkan sama mobil avanza. Hahahaha. Lucunya, Nia justru ngotot kalo monorobonya lebih lucu dari avanza. Dan keduanya nggak berhenti adu mulut membandingkan monokorobo dan mobil avanza. Nia dari kubu Monokorobo, dan evelyn dari kubu Avanza. Makin lama, dua anak ini makin panas. Kali ini, gue sempet liat mata evelyn mulai sedikit berkaca-kaca. Walah-walah, ribet nih jadinya kalo udah nangis.
Daripada ributnya jadi berkepanjangan gue pun mendamaikan keduanya. Khas guru-guru bijak (sok bijak tepatnya,haha), gue pun lalu memanggil keduanya kedepan. Gue mencoba membela keduanya supaya nggak ada yang merasa dianaktirikan. Baik monokorobo dan avanza, gue bilang dua-duanya itu lucu, dua-duanya hebat. Sama persis kaya Nia dan Evelyn, dua-duanya anak hebat. Lebih hebat lagi kalo mereka baikan dan temenan lagi. Ditambah dengan sejumlah wejangan-wejangan bla bla bla bla, gue coba mendamaikan mereka. Dan lucunya adalah mereka memang langsung salaman, baikan lagi. Tanpa ada embel-embel gengsi. Balik ketempat duduk, gue liat Evelyn dan Nia justru udah bergandengan tangan, akrab kaya kakak adik. Keduanya udah baikan lagi jadi temen. Dalam hati gue mikir, ya ampun anak kecil emang nggak punya problema. Coba kalo itu yang terjadi sama orang dewasa, rasanya susah banget bisa liat ada yang baikan dalam waktu secepat itu. Masing-masing punya ego sendiri, masing-masing punya kesombongan sendiri. Dan menurut mereka berdamai dengan cepat justu merusak ego mereka. Nah, sekarang keliatan kan bedanya anak kecil dan orang dewasa? Dalam hal ini, anak kecil jauh lebih unggul. Mereka lebih polos, lugu, nggak peduli gengsi dan mereka pecinta damai,hehehehe. Ini baru sebagian aja dari cerita gue tentang pengalaman gue ngajar di kelas TK. Kalo ditulisin semua, kayanya lebih pas kalo tulisan gue itu dibuat dalam chapter-chapter khusus,hehehe. Pasalnya memang banyak banget yang menarik untuk ditulisa dari mereka. Banyak banget ulah-ulah mereka yang membuat gue belajar sesuatu, dan gue selalu merasa damai kalo gue ada dideket-deket mereka. Yeah, kids are alwways wonderful, aren't they?
Rabu, 10 September 2008
Where is the love?

Belakangan ini gue baru sadar, gue udah lama banget nggak jatuh cinta, gue lupa rasanya jatuh cinta, gue lupa indahnya jatuh cinta. Atau malahan gue memang nggak pernah jatuh cinta ya? Ini lucu, diumur gue yang 21 tahun gue baru sadar gue bener-bener ga pernah merasa jatuh cinta. Walahhhhh, tragisnnya hidup ini. Gue baru tersadarkan lewat pembicaraan gue sama seorang temen gue di YM. Gue lupa waktu itu kita lagi ngomongin apa, tapi temanya soal pasangan hidup kalo nggak salah. Sampai satu kalimat yang gue tulis, 'I've never been in love.' Tulisan itu keluar begitu aja dengan sendirinya. Gue juga nggak sadar sama tulisan gue ini. Tapi jeda berikutnya, gue tertegun sebentar. Dan gue baca lagi tulisan gue itu sampai akhirnya gue tertawa kecut sendiri. Dear God, if love is the most beautiful and powerful thing in this world, where am I now?
Dulu, duluuuuuuu sekali, zaman-zamannya SMP gue pernah sih ngerasain yang namanya jatuh cinta. Rasanya memang indah, walaupun gue nggak yakin kalo sebenarnya itu namanya jatuh cinta. Naksir-naksiran sepertinya lebih pas. Cinta monyet kayanya lebih tepat.
Biasalah kaya anak- anak lain, ceritanya gue ini jatuh cinta sama kakak kelas gue yang emang terkenal cool satu sekolah (tipikal remaja baru gede, naksirnya sama yang paling populer seantero sekolah). Wah, kalo gue inget masa-masa itu sumpaaahhh culuuun banget. Masa-masa paling goblok hidup gue,hehehe. Gue inget banget dulu gue selalu berusaha curi-curi pandang terus ke dia. Tapi begitu dia nya nengok ke gue, gue diam 1000 bahasa, salting. Gue sama sekali nggak pernah ngomong sama dia, kenal aja nggak, apalagi ngobrol. Cinta sepihak, huhuhu...Parahnya lagi, entah kenapa kalo ketemu dia gue jadi cenderung melakukan hal-hal bodoh. Pernah misalnya gue ketimpuk bola basket tepat depan dia. Anjrittt bola basket itu melayang dan jatuh tepat dikepala gue. Kepala gue oleng, gelap gulita. Rasanya pengen pingsan. Tapi.....jangan! Ada dia disana, gimanapun gue harus terlihat cool di depan dia. Semua yang ada disana panik begitu bola terkutuk itu jatuh dikepala gue. Semua ngerubungin gue. Terutama yang melemparkan bola itu. Dan akhirnya dengan sejuta gengsi yang sebenarnya tololnya minta ampun, gue berusaha bangun dan berjalan dengan coolnya seakan gue nggak sakit sama sekali. Padahal...Ya ilah, bola basket itu kan segede-gede gaban, dan coba aja itu kalo jatuh depan lo, mantap rasanya. Kalo nggak sakit sih, hebat!
Pernah juga waktu itu gue mau disuruh sama guru biologi gue buat ambil apa lah, gue lupa. Setahu gue waktu itu, kelasnya memang kelas kosong, jadi nggak pernah ada orang dikelas itu. Itu jadi semacam gudang guru-guru buat taruh buku. Maka masuklah gue ke kelas itu dengan tenang dan PD. Dan jreek, begitu pintu terbuka, gue liat segerombolan cowok lagi ganti baju disana. Semuanya kontan jadi bengong begitu liat gue. Gue pun bengong. Semuanya bengong. Nggak enak banget rasanya masuk keruangan yang isinya cowok setengah bugil semua. Dan oh my god, ternyata ada dia juga disana. Tapi akhirnya semua ketawa-ketawa aja dan gue buru- buru keluar dari kelas itu. Ya ya ya, kalo diiinget-inget udah sering banget gue memberikan tontonan gratis adegan slapstick di depan dia.
Kalo dia pulang sekolah, sering banget secara diam-diam gue ngekor dibelakang,hehehe (freak banget ya gue dulu). Tapi begitu dia nengok dan nyadar ada gue dibelakangnya, sekali lagi gue sok cool. Dan entah ini perasaan gue aja atau nggak, gara-gara kontak-kontak bodoh seperti itu dia jadi lebih sering perhatiin gue. Ya, mungkin gue cuma dianggap cewek freak kali ya,hahaha. Sampai akhirnya dia terlanjur lulus dan nggak ada perkembangan apapun yang terjadi antar gue dan dia.
Hihihihi, kalo diinget-inget lagi rasanya lucu juga. Agak geli sih. Tapi setidaknya itu kenangan manis. Kenangan manis dibalik tembok sekolah.
Sekarang kalo gue flash back lagi, gue pengen jadi balik ke masa dulu. Masa dimana gue pernah ngerasain indahnya jatuh cinta. Tapi apa ya yang salah sama gue? Karena setelah cinta monyet SMP itu gue nggak pernah lagi ngerasain jatuh cinta. Gue nggak pernah lagi ngerasa salting atau ngelakuin hal-hal konyol di depan gebetan gue. Gue suka iri kalo liat temen-temen gue yang lagi jatuh cinta atau kasmaran. Sepertinya hidup mereka lebih berwarna. Gue nggak memungkiri pernah sih sekali-kali gue pernah naksir sama kakak kelas kaka kelas bermuka lucu semasa SMA gue. Tapi that's it, cuma sebatas naksir. Nggak lebih. Temen-temen gue selalu bilang kalo gue look up too high. Gue susah jatuh cinta karena kriteria gue terlalu tinggi. Hm, apa iya ya? Dan gue kadang terlalu sibuk sama kegiatan gue sendiri alhasil gue pun nggak punya waktu untuk mikirin cinta. Sekarang kalo gue pikir, itu mungkin juga. Selama ini gue memang nggak merasa ada yang kurang sama hidup gue. Gue punya cukup banyak kegiatan dan teman-teman yang ngisi hidup gue, jadi gue nggak terpikir untuk jatuh cinta. Gue pikir gue punya semua yang gue mau dan itu udah lebih dari cukup. Tapi sekarang, pernyataan gue sendiri menyadarkan gue, bener nggak sih apa yang gue miliki sekarang udah cukup? Kok sekarang gue justru merasa kosong? Kosong karena kealpaan cinta. Kosong karena nggak pernah jatuh cinta lagi. Gue pengen go back ke masa lalu. Ngerasain jatuh cinta. Gue kangen masa-masa jatuh cinta. Gue kangen masa-masa salah tingkah karena ketemu gebetan. Gue kangen curi-curi pandang ke gebatan setiap kali dia lewat. Gue kangen sama perasaan dag dig dug gue setiap kali dia lewat depan gue. Aaaarrrghh, gue kangen pengen jatuh cinta lagi.
Dulu, duluuuuuuu sekali, zaman-zamannya SMP gue pernah sih ngerasain yang namanya jatuh cinta. Rasanya memang indah, walaupun gue nggak yakin kalo sebenarnya itu namanya jatuh cinta. Naksir-naksiran sepertinya lebih pas. Cinta monyet kayanya lebih tepat.
Biasalah kaya anak- anak lain, ceritanya gue ini jatuh cinta sama kakak kelas gue yang emang terkenal cool satu sekolah (tipikal remaja baru gede, naksirnya sama yang paling populer seantero sekolah). Wah, kalo gue inget masa-masa itu sumpaaahhh culuuun banget. Masa-masa paling goblok hidup gue,hehehe. Gue inget banget dulu gue selalu berusaha curi-curi pandang terus ke dia. Tapi begitu dia nya nengok ke gue, gue diam 1000 bahasa, salting. Gue sama sekali nggak pernah ngomong sama dia, kenal aja nggak, apalagi ngobrol. Cinta sepihak, huhuhu...Parahnya lagi, entah kenapa kalo ketemu dia gue jadi cenderung melakukan hal-hal bodoh. Pernah misalnya gue ketimpuk bola basket tepat depan dia. Anjrittt bola basket itu melayang dan jatuh tepat dikepala gue. Kepala gue oleng, gelap gulita. Rasanya pengen pingsan. Tapi.....jangan! Ada dia disana, gimanapun gue harus terlihat cool di depan dia. Semua yang ada disana panik begitu bola terkutuk itu jatuh dikepala gue. Semua ngerubungin gue. Terutama yang melemparkan bola itu. Dan akhirnya dengan sejuta gengsi yang sebenarnya tololnya minta ampun, gue berusaha bangun dan berjalan dengan coolnya seakan gue nggak sakit sama sekali. Padahal...Ya ilah, bola basket itu kan segede-gede gaban, dan coba aja itu kalo jatuh depan lo, mantap rasanya. Kalo nggak sakit sih, hebat!
Pernah juga waktu itu gue mau disuruh sama guru biologi gue buat ambil apa lah, gue lupa. Setahu gue waktu itu, kelasnya memang kelas kosong, jadi nggak pernah ada orang dikelas itu. Itu jadi semacam gudang guru-guru buat taruh buku. Maka masuklah gue ke kelas itu dengan tenang dan PD. Dan jreek, begitu pintu terbuka, gue liat segerombolan cowok lagi ganti baju disana. Semuanya kontan jadi bengong begitu liat gue. Gue pun bengong. Semuanya bengong. Nggak enak banget rasanya masuk keruangan yang isinya cowok setengah bugil semua. Dan oh my god, ternyata ada dia juga disana. Tapi akhirnya semua ketawa-ketawa aja dan gue buru- buru keluar dari kelas itu. Ya ya ya, kalo diiinget-inget udah sering banget gue memberikan tontonan gratis adegan slapstick di depan dia.
Kalo dia pulang sekolah, sering banget secara diam-diam gue ngekor dibelakang,hehehe (freak banget ya gue dulu). Tapi begitu dia nengok dan nyadar ada gue dibelakangnya, sekali lagi gue sok cool. Dan entah ini perasaan gue aja atau nggak, gara-gara kontak-kontak bodoh seperti itu dia jadi lebih sering perhatiin gue. Ya, mungkin gue cuma dianggap cewek freak kali ya,hahaha. Sampai akhirnya dia terlanjur lulus dan nggak ada perkembangan apapun yang terjadi antar gue dan dia.
Hihihihi, kalo diinget-inget lagi rasanya lucu juga. Agak geli sih. Tapi setidaknya itu kenangan manis. Kenangan manis dibalik tembok sekolah.
Sekarang kalo gue flash back lagi, gue pengen jadi balik ke masa dulu. Masa dimana gue pernah ngerasain indahnya jatuh cinta. Tapi apa ya yang salah sama gue? Karena setelah cinta monyet SMP itu gue nggak pernah lagi ngerasain jatuh cinta. Gue nggak pernah lagi ngerasa salting atau ngelakuin hal-hal konyol di depan gebetan gue. Gue suka iri kalo liat temen-temen gue yang lagi jatuh cinta atau kasmaran. Sepertinya hidup mereka lebih berwarna. Gue nggak memungkiri pernah sih sekali-kali gue pernah naksir sama kakak kelas kaka kelas bermuka lucu semasa SMA gue. Tapi that's it, cuma sebatas naksir. Nggak lebih. Temen-temen gue selalu bilang kalo gue look up too high. Gue susah jatuh cinta karena kriteria gue terlalu tinggi. Hm, apa iya ya? Dan gue kadang terlalu sibuk sama kegiatan gue sendiri alhasil gue pun nggak punya waktu untuk mikirin cinta. Sekarang kalo gue pikir, itu mungkin juga. Selama ini gue memang nggak merasa ada yang kurang sama hidup gue. Gue punya cukup banyak kegiatan dan teman-teman yang ngisi hidup gue, jadi gue nggak terpikir untuk jatuh cinta. Gue pikir gue punya semua yang gue mau dan itu udah lebih dari cukup. Tapi sekarang, pernyataan gue sendiri menyadarkan gue, bener nggak sih apa yang gue miliki sekarang udah cukup? Kok sekarang gue justru merasa kosong? Kosong karena kealpaan cinta. Kosong karena nggak pernah jatuh cinta lagi. Gue pengen go back ke masa lalu. Ngerasain jatuh cinta. Gue kangen masa-masa jatuh cinta. Gue kangen masa-masa salah tingkah karena ketemu gebetan. Gue kangen curi-curi pandang ke gebatan setiap kali dia lewat. Gue kangen sama perasaan dag dig dug gue setiap kali dia lewat depan gue. Aaaarrrghh, gue kangen pengen jatuh cinta lagi.
Selasa, 09 September 2008
Thanks for showing me what sharing really is!
Kemaren gue pulang kantor dengan busway. Sejujurnya gue selalu menantikan moment-moment kesendirian gue di busway. Kalo yang lain males, gue justru enjoy banget naik busway. Tapi dicatat ya, hanya dalam kondisi busway yang sepi,hehe. Gue suka waktu gue duduk di barisan paling belakang, paling pojok deket jendela sambil dengerin si mecuje (ipod wannabe kesayangan gue). Kadang gue tidur dalam busway, kadang gue melamun, kadang gue berimajinasi, kadang gue ngejo (lho kok?Hehe, normal lah. It happened naturally, mau bagaimana lagi?).Ya bisa dibilang kalo berada di busway sepi itu masa-masa paling relax dalam hidup gue.
Kaya kemaren, gue kebetulan naik di busway yang sepi. Gue jalan dari kantor sekitar jam 5.30an. Dan busway bener-bener sepi. Mungkin pada masih dikantor kali ya, nunggu buka puasa. Jadilah busway sepi, paling-paling cuma ada sekitar 7 sampai 8 penumpang. Didalam busway, supir menyalakan radio, mungkin sebagai penanda kalo waktu buka puasa udah tiba.
Nggak lama kemudian, suara adzan pun terdengar. Waktunya buka puasa. Ini dia moment yang indah banget sepanjang sejarah gue naik busway. Sontak sang supir berhenti sebentar, mengeluarkan botol minumannya lalu minum seteguk air. Nggak lama kemudian dia keluarin lagi satu bungkusan plastik yang isinya aneka biskuit kecil. Bekal dari istri tercinta mungkin. Kebetulan gue memang duduk deket supir, dan sang supir sempat menawarkan biskuitnya ke gue. Gue cuma tersenyum, merasa hangat karena sikap bersahabat sang supir. Nggak mau ketinggalan, sang doorman pun maju ke dekat supir mengambil makanan yang sepertinya memang sudah disiapkan untuk berbuka puasa. Sang doorman pun ikut menawarkan makananan nya ke gue. Mungkin dia pikir gue nggak punya makanan untuk berbuka puasa padahal yang sebenarnya adalah gue emang nggak puasa,hehe. Sekali lagi gue menolak dengan halus. Busway masih berhenti. Dan gue liat di sekeliling gue. Semua yang ada disana sibuk mengeluarkan bekal buka puasa mereka. Mereka bahkan saling berbagi. Ada ibu-ibu bersarung yang keliatannya kucel banget, tapi dia rela membagi setengah jeruknya buat ibu-ibu lain yang ada disebelahnya. Sedangkan yang dibagi jeruk pun tak mau kalah, membalas ibu-ibu bersarung tadi dengan sebuah lemper. Beberapa ibu-ibu lain juga tidak ketinggalan saling menawarkan makanan mereka. Nah, diantara sekumpulan ibu-ibu itu, ada dua bapak-bapak yang dari tadi diem aja bengong. Kalo dari yang gue liat bapak-bapak itu sepertinya nggak punya bekal. Jadi kasian. Bapak-bapak biasanya kan memang lebih malas bawa bekal. Jadilah mereka nggak punya makanan apapun untuk berbuka. Disini gue liat lagi ibu-ibu tadi membagikan setengah bekalnya untuk si bapak-bapak itu. Suasana pun jadi lebih rame. Mereka bercakap-cakap akrab satu sama lain. Padahal sebelum buka puasa tadi, suasana di busway sepi dan sunyi banget. Tapi liat mereka sekarang. Mereka jadi akrab satu sama lain meskipun nggak saling kenal. Nggak ketinggalan, sang supir pun membuka jendelanya, membagikan setengah makanannya ke peminta-minta yang ada di jalan. Gila, gue ngerasa hangat banget disini. Gue tersenyum. Merasa damai. Gue bersyukur diantara orang-orang jakarta yang katanya lebih mementingkan diri sendiri dan egois, ada juga yang mau saling berbagi. Orang-orang di busway ini mungkin nggak seberuntung orang lain yang bisa merayakan buka puasa bersama keluarganya. Tapi mereka menunjukkan apa arti kekeluargaan yang sebenarnya buat gue. Belakangan gue sering nulis copy tentang indahnya berbagi bersama orang-orang terdekat anda. Copy-copy itu gue buat sehubungan sama moment puasa dan idul fitri yang bentar lagi tiba. Tapi jujur, copy itu cuma copy yang keluar karena kebiasaan. Gue nulis begitu karena emang itu yang ada dalam otak gue. Puasa atau Idul Fitri selalu dikaitkan sama berbagi, silaturahmi dan berbagai macam bla bla bla lainnya. Bisa dibilang tulisan itu keluar seadanya, tanpa ada keterkaitan emosi, karena gue nggak benar-benar sedang merasakan makna berbagi ketika gue nulis copy itu. Tapi sekarang, a simple thought di busway udah membuka pikiran gue. Mungkin cerita gue tadi kedengarannya biasa aja, nothing so special. Tapi entah kenapa, gue ngerasa peacuful banget didalam busway itu. Something yang udah ngajarin gue tentang makna berbagi itu sendiri. Keluar dari busway itu gue cuma bisa berucap dalam hati, 'Thanks for showing me what sharing really is.'
Kaya kemaren, gue kebetulan naik di busway yang sepi. Gue jalan dari kantor sekitar jam 5.30an. Dan busway bener-bener sepi. Mungkin pada masih dikantor kali ya, nunggu buka puasa. Jadilah busway sepi, paling-paling cuma ada sekitar 7 sampai 8 penumpang. Didalam busway, supir menyalakan radio, mungkin sebagai penanda kalo waktu buka puasa udah tiba.
Nggak lama kemudian, suara adzan pun terdengar. Waktunya buka puasa. Ini dia moment yang indah banget sepanjang sejarah gue naik busway. Sontak sang supir berhenti sebentar, mengeluarkan botol minumannya lalu minum seteguk air. Nggak lama kemudian dia keluarin lagi satu bungkusan plastik yang isinya aneka biskuit kecil. Bekal dari istri tercinta mungkin. Kebetulan gue memang duduk deket supir, dan sang supir sempat menawarkan biskuitnya ke gue. Gue cuma tersenyum, merasa hangat karena sikap bersahabat sang supir. Nggak mau ketinggalan, sang doorman pun maju ke dekat supir mengambil makanan yang sepertinya memang sudah disiapkan untuk berbuka puasa. Sang doorman pun ikut menawarkan makananan nya ke gue. Mungkin dia pikir gue nggak punya makanan untuk berbuka puasa padahal yang sebenarnya adalah gue emang nggak puasa,hehe. Sekali lagi gue menolak dengan halus. Busway masih berhenti. Dan gue liat di sekeliling gue. Semua yang ada disana sibuk mengeluarkan bekal buka puasa mereka. Mereka bahkan saling berbagi. Ada ibu-ibu bersarung yang keliatannya kucel banget, tapi dia rela membagi setengah jeruknya buat ibu-ibu lain yang ada disebelahnya. Sedangkan yang dibagi jeruk pun tak mau kalah, membalas ibu-ibu bersarung tadi dengan sebuah lemper. Beberapa ibu-ibu lain juga tidak ketinggalan saling menawarkan makanan mereka. Nah, diantara sekumpulan ibu-ibu itu, ada dua bapak-bapak yang dari tadi diem aja bengong. Kalo dari yang gue liat bapak-bapak itu sepertinya nggak punya bekal. Jadi kasian. Bapak-bapak biasanya kan memang lebih malas bawa bekal. Jadilah mereka nggak punya makanan apapun untuk berbuka. Disini gue liat lagi ibu-ibu tadi membagikan setengah bekalnya untuk si bapak-bapak itu. Suasana pun jadi lebih rame. Mereka bercakap-cakap akrab satu sama lain. Padahal sebelum buka puasa tadi, suasana di busway sepi dan sunyi banget. Tapi liat mereka sekarang. Mereka jadi akrab satu sama lain meskipun nggak saling kenal. Nggak ketinggalan, sang supir pun membuka jendelanya, membagikan setengah makanannya ke peminta-minta yang ada di jalan. Gila, gue ngerasa hangat banget disini. Gue tersenyum. Merasa damai. Gue bersyukur diantara orang-orang jakarta yang katanya lebih mementingkan diri sendiri dan egois, ada juga yang mau saling berbagi. Orang-orang di busway ini mungkin nggak seberuntung orang lain yang bisa merayakan buka puasa bersama keluarganya. Tapi mereka menunjukkan apa arti kekeluargaan yang sebenarnya buat gue. Belakangan gue sering nulis copy tentang indahnya berbagi bersama orang-orang terdekat anda. Copy-copy itu gue buat sehubungan sama moment puasa dan idul fitri yang bentar lagi tiba. Tapi jujur, copy itu cuma copy yang keluar karena kebiasaan. Gue nulis begitu karena emang itu yang ada dalam otak gue. Puasa atau Idul Fitri selalu dikaitkan sama berbagi, silaturahmi dan berbagai macam bla bla bla lainnya. Bisa dibilang tulisan itu keluar seadanya, tanpa ada keterkaitan emosi, karena gue nggak benar-benar sedang merasakan makna berbagi ketika gue nulis copy itu. Tapi sekarang, a simple thought di busway udah membuka pikiran gue. Mungkin cerita gue tadi kedengarannya biasa aja, nothing so special. Tapi entah kenapa, gue ngerasa peacuful banget didalam busway itu. Something yang udah ngajarin gue tentang makna berbagi itu sendiri. Keluar dari busway itu gue cuma bisa berucap dalam hati, 'Thanks for showing me what sharing really is.'
Senin, 08 September 2008
Dari pacar pertama sampai 'the one'
Sometimes gue bersyukur bisa masuk dan berkecimpung ke industri advertising ini, (kalo baru magang termasuk berkecimpung nggak ya? :-))
Kalo ditanya alasannya kenapa, gue masih belum bisa menjawab. Ada beberapa alasan sih, tapi mungkin masih terlalu dangkal untuk jadi alasan yang kuat.
Dari dulu gue pengen kerja di bidang yang gue suka, yang bener-bener jadi passion gue. Dan advertising adalah passion gue untuk saat ini. I'll do anything and I'll put my blood on this passion. Menurut gue selalu menyenangkan kalo kita kerja didunia yang kita suka. Kerja bukan karena uang, tapi karena memang ingin menyalurkan kesenangan kita.Sekali lagi bukan karena uang. Kalo gue ngomong kaya gini, kesannya duit nggak penting banget ya buat gue,hahaha. Padahal...Ya ilah bocah kaya gue seger banget kalo ngeliat duit. Gue penganut aliran, more money more fun. Tapi pointless kalo duit kita jadikan satu-satunya pondasi. Gue pernah ketemu orang yang kerjanya nine to five depan komputer doing something yang emang udah jadi kesehariannya. Sebut deh namanya Mira. Mira ini salah satu kakak kelas gue di SMP dulu yang sekarang kerja di sebuah bank. Mira sering curhat sama gue lewat YM, dia bosen sama kerjaannya. Nggak sabar nunggu jam 5 biar bisa cepet-cepet pulang. Dari yang gue liat sepertinya si Mira ini nggak enjoy banget sama kerjaannya. Padahal kalo diliat dari segi gaji, walah mualahhhhhhh.....Lumayan banget buat fresh graduate kaya si Mira ini. Gue sempet nanya kenapa nggak cabut aja kalo nggak suka? Mira cuma jawab gini, "Ya jen, kalo cabut mau kemana lagi gue? Kalo pun cari kerja ditempat lain ujung-ujungnya juga pasti kerjaan beginian lagi." Tuh kan, bener! Si Mira bukan keliatannya lagi nggak enjoy, tapi emang udah kenyataan. Tapi kayanya dia memang nggak punya pilihan lain lagi, she's totally stuck in her job. Gue belajar dari pengalaman Mira ini. Gue nggak mau hal yang sama terjadi sama gue.That's why gue pilih advertising. Advertising menawarkan sesuatu yang nggak pasti. Selalu ada naik atau turun. Ritmenya nggak jelas. Nggak stabil.
Ya mungkin nggak cuma di advertising aja yang begini. Mungkin ada beberapa kerjaan yang juga sama edannya dalam soal nggak pasti dan ritme kerja. Tapi kalo di advertising, gue ngerasa selalu di challenge. Hari ini gue mungkin ketemu satu kasus yang harus gue cari jalan keluarnya, tapi next time akan ada kasus baru lagi. Dan gue dituntut terus up to date untuk segala hal baru yang terjadi. Nggak mungkin kita bisa survive di dunia ini kalo kita penganut aliran old school. Yang ada kita mesti ngikutin perkembangan zaman, perkembangan konsumen, perkembangan trend, perkembangan dunia musik, dunia entertainment, dan segala macam perkembangan lainnnya. Yeah, anything!
Keep up to date bisa membuat seseorang merasa maju. Dan ketika gue merasa maju itulah gue merasa gue bener-bener hidup. That's what I love 'bout advertising.
Mungkin nggak semua orang setuju sama gue. Ada yang mungkin bilang, 'masih bau kencur aja nih anak, belum tau suka dukanya advertising! Ntar kalo udah tau juga pasti kabur pelan-pelan.' Ya mungkin aja, itu bisa bener bisa juga salah. Mungkin ini karena pengaruh lagi hot-hotnya passion gue di advertising. Tapi menurut gue bukan masalah juga kalo suatu saat gue tiba-tiba memutuskan untuk kabur dari dunia ini. Setiap orang berhak mencoba. Ibaratnya pacaran, nggak setiap orang harus langsung menikahi pacar pertamanya. Bisa aja kita gagal pacaran untuk pertama kalinya, tapi selalu akan ada kesempatan dengan hadirnya pacar kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, sampai kita memutuskan sendiri mana yang akan jadi the right one kita.
Kalo ditanya alasannya kenapa, gue masih belum bisa menjawab. Ada beberapa alasan sih, tapi mungkin masih terlalu dangkal untuk jadi alasan yang kuat.
Dari dulu gue pengen kerja di bidang yang gue suka, yang bener-bener jadi passion gue. Dan advertising adalah passion gue untuk saat ini. I'll do anything and I'll put my blood on this passion. Menurut gue selalu menyenangkan kalo kita kerja didunia yang kita suka. Kerja bukan karena uang, tapi karena memang ingin menyalurkan kesenangan kita.Sekali lagi bukan karena uang. Kalo gue ngomong kaya gini, kesannya duit nggak penting banget ya buat gue,hahaha. Padahal...Ya ilah bocah kaya gue seger banget kalo ngeliat duit. Gue penganut aliran, more money more fun. Tapi pointless kalo duit kita jadikan satu-satunya pondasi. Gue pernah ketemu orang yang kerjanya nine to five depan komputer doing something yang emang udah jadi kesehariannya. Sebut deh namanya Mira. Mira ini salah satu kakak kelas gue di SMP dulu yang sekarang kerja di sebuah bank. Mira sering curhat sama gue lewat YM, dia bosen sama kerjaannya. Nggak sabar nunggu jam 5 biar bisa cepet-cepet pulang. Dari yang gue liat sepertinya si Mira ini nggak enjoy banget sama kerjaannya. Padahal kalo diliat dari segi gaji, walah mualahhhhhhh.....Lumayan banget buat fresh graduate kaya si Mira ini. Gue sempet nanya kenapa nggak cabut aja kalo nggak suka? Mira cuma jawab gini, "Ya jen, kalo cabut mau kemana lagi gue? Kalo pun cari kerja ditempat lain ujung-ujungnya juga pasti kerjaan beginian lagi." Tuh kan, bener! Si Mira bukan keliatannya lagi nggak enjoy, tapi emang udah kenyataan. Tapi kayanya dia memang nggak punya pilihan lain lagi, she's totally stuck in her job. Gue belajar dari pengalaman Mira ini. Gue nggak mau hal yang sama terjadi sama gue.That's why gue pilih advertising. Advertising menawarkan sesuatu yang nggak pasti. Selalu ada naik atau turun. Ritmenya nggak jelas. Nggak stabil.
Ya mungkin nggak cuma di advertising aja yang begini. Mungkin ada beberapa kerjaan yang juga sama edannya dalam soal nggak pasti dan ritme kerja. Tapi kalo di advertising, gue ngerasa selalu di challenge. Hari ini gue mungkin ketemu satu kasus yang harus gue cari jalan keluarnya, tapi next time akan ada kasus baru lagi. Dan gue dituntut terus up to date untuk segala hal baru yang terjadi. Nggak mungkin kita bisa survive di dunia ini kalo kita penganut aliran old school. Yang ada kita mesti ngikutin perkembangan zaman, perkembangan konsumen, perkembangan trend, perkembangan dunia musik, dunia entertainment, dan segala macam perkembangan lainnnya. Yeah, anything!
Keep up to date bisa membuat seseorang merasa maju. Dan ketika gue merasa maju itulah gue merasa gue bener-bener hidup. That's what I love 'bout advertising.
Mungkin nggak semua orang setuju sama gue. Ada yang mungkin bilang, 'masih bau kencur aja nih anak, belum tau suka dukanya advertising! Ntar kalo udah tau juga pasti kabur pelan-pelan.' Ya mungkin aja, itu bisa bener bisa juga salah. Mungkin ini karena pengaruh lagi hot-hotnya passion gue di advertising. Tapi menurut gue bukan masalah juga kalo suatu saat gue tiba-tiba memutuskan untuk kabur dari dunia ini. Setiap orang berhak mencoba. Ibaratnya pacaran, nggak setiap orang harus langsung menikahi pacar pertamanya. Bisa aja kita gagal pacaran untuk pertama kalinya, tapi selalu akan ada kesempatan dengan hadirnya pacar kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, sampai kita memutuskan sendiri mana yang akan jadi the right one kita.
Minggu, 07 September 2008
Beauty Cursed

They said I'm beautiful
They said I'm the goddess
They said I'm the red rose
They said I'm the perfect one
But it's still empty
I've got my self alone in this room
No one's here
Where are the people?
All I want is to be with them
With people around me
Smile each other
And know the feeling to be the part of the human right
But...
They don't like me
They saw me differently
Because...
I'm beautiful
I'm the goddess
I'm the red rose
I'm the perfect one
Someone please tell me
Is that all my false?
My beauty my cursed
I'm hanging here alone
And now..
Now they helped me to understand
Beauty is pain
Beauty is cursed
Mirror mirror hanging on the wall
Please give me another reflection
Don't want to be the girl in front of me
She's all depressed
She's all stuck
She's all alone
I've just pretend my self as Grace Kelly.
Beginilah yang terjadi ketika seorang gue mencoba masuk kedalam alter ego nya grace kelly, hahahaha... Well, menjadi cantik mungkin tidak selalu semenyenangkan yang kita kira.
Sabtu, 06 September 2008
Ketika Si Bau Kencur Ikut Syuting
Selama ini gue pikir saat-saat syuting TVC itu selalu akan jadi the big day. Gue pikir di hari itulah, kita semua bakal jor-joran dan sibuk abis-abisan. Itu yang selalu ada dalam otak gue. Tapi kenyataannya bertolak belakang. Syuting justru jadi hari yang panjang banget terutama buat agency. Why? Karena waktu syuting, semuanya memang udah jadi urusan PH. Merekalah yang bertindak sebagai eksekutor, jadi semua yang terjadi dilapangan itu full jadi tugas mereka. Sedangkan agency adalah tim konseptor yang memikirkan konsep dan strategi yang pas buat TVC itu sendiri.
Agency itu justru sibuknya waktu create idea, crafting concept, pokoknya segala hal yang berhubungan dengan konsep. Disinilah tiap orang dalam tim dituntut bepikir keras untuk ide-ide atau gagasan yang bisa dipakai untuk syuting iklan nanti. Tapi kalo udah masuk saat syuting, tim agency bisa dbilang hanya sebagai pengawas. Kalo ada pertanyaan dari Director, atau kalo dibutuhkan masukan, disitulah agency berperan. Makanya bisa dibilang kalo saat-saat syuting itu justru adalah saat tersantai buat orang-orang agency. Selain nggak harus ke kantor, dan nggak usah mikirin konsep-kosep yang njelimet, saat syuting itulah orang agency full dimanjakan dengan treatment-treatment dari PH. Biasanya kalo udah syuting begini, selalu pesta makanan. Semua makanan disajikan di tenda yang disediakan untuk orang agency. Setidaknya itu pengalaman yang gue rasakan waktu ikutan syuting vario kemaren.
Well, meskipun saat syuting tim agency cuma berperan sebagai pengawas, tapi gue belajar banyak dari syuting kemaren. Terutama untuk hal-hal yang lebih bersifat teknis. Gue jadi lebih tau banyak dan buat gue mengetahui segala hal baru itu selalu menyenangkan lho,hehe... Untuk manusia awam kaya gue rasanya excited banget ngeliat proses syuting dan bagian yang paling menaik adalah gue bisa compared saat-saat pembuatannya dengan hasil yang kita liat di tv. Hihihihihihi, norak ya. Begini mungkin ciri-ciri anak magang bau kencur yang selalu pengen tauuuu aja.
Agency itu justru sibuknya waktu create idea, crafting concept, pokoknya segala hal yang berhubungan dengan konsep. Disinilah tiap orang dalam tim dituntut bepikir keras untuk ide-ide atau gagasan yang bisa dipakai untuk syuting iklan nanti. Tapi kalo udah masuk saat syuting, tim agency bisa dbilang hanya sebagai pengawas. Kalo ada pertanyaan dari Director, atau kalo dibutuhkan masukan, disitulah agency berperan. Makanya bisa dibilang kalo saat-saat syuting itu justru adalah saat tersantai buat orang-orang agency. Selain nggak harus ke kantor, dan nggak usah mikirin konsep-kosep yang njelimet, saat syuting itulah orang agency full dimanjakan dengan treatment-treatment dari PH. Biasanya kalo udah syuting begini, selalu pesta makanan. Semua makanan disajikan di tenda yang disediakan untuk orang agency. Setidaknya itu pengalaman yang gue rasakan waktu ikutan syuting vario kemaren.
Well, meskipun saat syuting tim agency cuma berperan sebagai pengawas, tapi gue belajar banyak dari syuting kemaren. Terutama untuk hal-hal yang lebih bersifat teknis. Gue jadi lebih tau banyak dan buat gue mengetahui segala hal baru itu selalu menyenangkan lho,hehe... Untuk manusia awam kaya gue rasanya excited banget ngeliat proses syuting dan bagian yang paling menaik adalah gue bisa compared saat-saat pembuatannya dengan hasil yang kita liat di tv. Hihihihihihi, norak ya. Begini mungkin ciri-ciri anak magang bau kencur yang selalu pengen tauuuu aja.
Jumat, 05 September 2008
Copy Keren
MengirimkeNegeriMatahariTerbitSebelumTerbitMatahari
Waktu saya liat copy ini, yang ada dalam otak saya cuma 'wah, gila gokil amat nih yang buat.' Dari yang saya tangkap, maksud iklan ini masih sama dengan iklan-iklan Fed Ex terdahulu. Intinya sampai dimanapun kita berada, paket yang dikirimkan kepada kita pasti sampai. Bahkan sampai ke negeri matahari sekalipun dan tentunya dengan waktu yang sangat cepat, disini dianalogikan dengan sebelum terbit matahari.
Saya cuma bisa berimajinasi, coba kalo saya yang membuat copy ini. Wah gila, pasti bangga banget. Craftingnya rapi dan menurut saya ini termasuk copy kreatif yang membuat saya merasa harus sujud sembah kepada empunya sang pembuat copy.
Saya cuma bisa berimajinasi, coba kalo saya yang membuat copy ini. Wah gila, pasti bangga banget. Craftingnya rapi dan menurut saya ini termasuk copy kreatif yang membuat saya merasa harus sujud sembah kepada empunya sang pembuat copy.
Rabu, 03 September 2008
Komunikasi Cinta - Djito Kasilo
Gue langsung nggak bisa berhenti baca dari halaman pertama gue mulai. Menurut gue ini buku bagus yang harus dibaca oleh siapa aja yang tertarik sama komunikasi. Nggak tertarik juga gapapa kok, baca aja. Nggak ada ruginya,hehe.
Pikiran gue banyak terbuka sejak gue baca buku ini. Sama seperti judulnya, buku ini memang seputar komunikasi yang dilakukan dengan cinta. Bagaimana kita bisa membuat konsumen cinta pada brand kita dengan upaya cinta yang kita lakukan untuk mereka yang pada ujung-ujungnya membuat client pun tetep cinta pada kita. Kalo memang cinta bisa jadi cara yang baik untuk menyampaikan tujuan kita ke konsumen, then why not?
Semua perumpamaan-perumpamaan yang dipake ayah Djito terasa kena banget. Setidaknya begitu menurut gue. Dengan perumpamaan, semuanya memang jadi lebih gampang dicerna.
A smart way to learn, rite?
Cinta, cinta, memang cinta. Semua bisa dikomunikasi dengan cinta. Gue ngerasa damai bangeeettt baca buku ini. Lho kok bisa? Hahaha, saran gue baca deh buku ini cause yeah, love is all we need!
Pikiran gue banyak terbuka sejak gue baca buku ini. Sama seperti judulnya, buku ini memang seputar komunikasi yang dilakukan dengan cinta. Bagaimana kita bisa membuat konsumen cinta pada brand kita dengan upaya cinta yang kita lakukan untuk mereka yang pada ujung-ujungnya membuat client pun tetep cinta pada kita. Kalo memang cinta bisa jadi cara yang baik untuk menyampaikan tujuan kita ke konsumen, then why not?
Semua perumpamaan-perumpamaan yang dipake ayah Djito terasa kena banget. Setidaknya begitu menurut gue. Dengan perumpamaan, semuanya memang jadi lebih gampang dicerna.
A smart way to learn, rite?
Cinta, cinta, memang cinta. Semua bisa dikomunikasi dengan cinta. Gue ngerasa damai bangeeettt baca buku ini. Lho kok bisa? Hahaha, saran gue baca deh buku ini cause yeah, love is all we need!
Selasa, 02 September 2008
Khira

Khira
Apa yang kau pikirkan?
Khira
Apa yang kau renungkan?
Semua tanyamu yang tak kau pahami
Khira
Dunia terkadang terasa
Tak cukup adil bagimu
Tak cukup baik bagimu
Kemanakah kau cari itu?
Saat tak ada jalan
Saat tak punya pilihan
Saat tak berdaya
Kemana kau berdiri?
Kau jalani semua
Oh Khira
Kau hibur dirimu sendiri
Walau getir trasa nyata
Tak pernah kau jatuh dalam lemah
Tersenyum slalu dalam pahitmu
Melagukan nyanyian kisahmu
Katamu semuanya indah
katamu semuanya baik
Tak perlu kau cari lagi
Indah hidup ini di matamu
Secercah penggalan hati Khira!
Menyegarkan mata dan nurani

Salah satu masterpiece kebanggaan saya,hehe.Ya, meskipun ini bukan foto yang bagus banget, tapi ada rasa puas ketika saya berhasil mengambil foto mas-mas bule ini. Ini bener-bener candid, 100 persen pure nggak direncanakan. Nah, disinilah letak kepuasan itu. Karena candid ekspresinya justru jadi lebih natural. Plus kebetulan mas-mas ini berwajah rupawan rupanya, menyegarkan mata dan nurani,hehe.
Langganan:
Postingan (Atom)