Selasa, 09 September 2008

Thanks for showing me what sharing really is!

Kemaren gue pulang kantor dengan busway. Sejujurnya gue selalu menantikan moment-moment kesendirian gue di busway. Kalo yang lain males, gue justru enjoy banget naik busway. Tapi dicatat ya, hanya dalam kondisi busway yang sepi,hehe. Gue suka waktu gue duduk di barisan paling belakang, paling pojok deket jendela sambil dengerin si mecuje (ipod wannabe kesayangan gue). Kadang gue tidur dalam busway, kadang gue melamun, kadang gue berimajinasi, kadang gue ngejo (lho kok?Hehe, normal lah. It happened naturally, mau bagaimana lagi?).Ya bisa dibilang kalo berada di busway sepi itu masa-masa paling relax dalam hidup gue.

Kaya kemaren, gue kebetulan naik di busway yang sepi. Gue jalan dari kantor sekitar jam 5.30an. Dan busway bener-bener sepi. Mungkin pada masih dikantor kali ya, nunggu buka puasa. Jadilah busway sepi, paling-paling cuma ada sekitar 7 sampai 8 penumpang. Didalam busway, supir menyalakan radio, mungkin sebagai penanda kalo waktu buka puasa udah tiba.

Nggak lama kemudian, suara adzan pun terdengar. Waktunya buka puasa. Ini dia moment yang indah banget sepanjang sejarah gue naik busway. Sontak sang supir berhenti sebentar, mengeluarkan botol minumannya lalu minum seteguk air. Nggak lama kemudian dia keluarin lagi satu bungkusan plastik yang isinya aneka biskuit kecil. Bekal dari istri tercinta mungkin. Kebetulan gue memang duduk deket supir, dan sang supir sempat menawarkan biskuitnya ke gue. Gue cuma tersenyum, merasa hangat karena sikap bersahabat sang supir. Nggak mau ketinggalan, sang doorman pun maju ke dekat supir mengambil makanan yang sepertinya memang sudah disiapkan untuk berbuka puasa. Sang doorman pun ikut menawarkan makananan nya ke gue. Mungkin dia pikir gue nggak punya makanan untuk berbuka puasa padahal yang sebenarnya adalah gue emang nggak puasa,hehe. Sekali lagi gue menolak dengan halus. Busway masih berhenti. Dan gue liat di sekeliling gue. Semua yang ada disana sibuk mengeluarkan bekal buka puasa mereka. Mereka bahkan saling berbagi. Ada ibu-ibu bersarung yang keliatannya kucel banget, tapi dia rela membagi setengah jeruknya buat ibu-ibu lain yang ada disebelahnya. Sedangkan yang dibagi jeruk pun tak mau kalah, membalas ibu-ibu bersarung tadi dengan sebuah lemper. Beberapa ibu-ibu lain juga tidak ketinggalan saling menawarkan makanan mereka. Nah, diantara sekumpulan ibu-ibu itu, ada dua bapak-bapak yang dari tadi diem aja bengong. Kalo dari yang gue liat bapak-bapak itu sepertinya nggak punya bekal. Jadi kasian. Bapak-bapak biasanya kan memang lebih malas bawa bekal. Jadilah mereka nggak punya makanan apapun untuk berbuka. Disini gue liat lagi ibu-ibu tadi membagikan setengah bekalnya untuk si bapak-bapak itu. Suasana pun jadi lebih rame. Mereka bercakap-cakap akrab satu sama lain. Padahal sebelum buka puasa tadi, suasana di busway sepi dan sunyi banget. Tapi liat mereka sekarang. Mereka jadi akrab satu sama lain meskipun nggak saling kenal. Nggak ketinggalan, sang supir pun membuka jendelanya, membagikan setengah makanannya ke peminta-minta yang ada di jalan. Gila, gue ngerasa hangat banget disini. Gue tersenyum. Merasa damai. Gue bersyukur diantara orang-orang jakarta yang katanya lebih mementingkan diri sendiri dan egois, ada juga yang mau saling berbagi. Orang-orang di busway ini mungkin nggak seberuntung orang lain yang bisa merayakan buka puasa bersama keluarganya. Tapi mereka menunjukkan apa arti kekeluargaan yang sebenarnya buat gue. Belakangan gue sering nulis copy tentang indahnya berbagi bersama orang-orang terdekat anda. Copy-copy itu gue buat sehubungan sama moment puasa dan idul fitri yang bentar lagi tiba. Tapi jujur, copy itu cuma copy yang keluar karena kebiasaan. Gue nulis begitu karena emang itu yang ada dalam otak gue. Puasa atau Idul Fitri selalu dikaitkan sama berbagi, silaturahmi dan berbagai macam bla bla bla lainnya. Bisa dibilang tulisan itu keluar seadanya, tanpa ada keterkaitan emosi, karena gue nggak benar-benar sedang merasakan makna berbagi ketika gue nulis copy itu. Tapi sekarang, a simple thought di busway udah membuka pikiran gue. Mungkin cerita gue tadi kedengarannya biasa aja, nothing so special. Tapi entah kenapa, gue ngerasa peacuful banget didalam busway itu. Something yang udah ngajarin gue tentang makna berbagi itu sendiri. Keluar dari busway itu gue cuma bisa berucap dalam hati, 'Thanks for showing me what sharing really is.'