Lama nggak ngajar, tiba-tiba gue kangen pengen ngajar lagi. Kangen pengen ketemu murid-murid gue.Kangen denger celotehan-celotehan lucu mereka. Kangen melihat mata-mata excited mereka setiap kali gue mulai mendongengkan cerita buat mereka. Gue kangen murid-murid gue.
Oh ya, sebelumnya biar gue jelaskan dulu, gue sempet jadi guru TK dan anak kecil di sebuah sekolah kursus bahasa. Murid- murid gue kebanyakan anak TK, ada beberapa yang udah SD dan SMP, tapi kebanyakan TK.
Sejujurnya buat gue ngajar anak TK itu menyenangkan. Selalu ada hal-hal baru yang menarik perhatian gue setiap gue ngajar anak TK. Mereka membuka mata gue dengan kelucuan, kepolosan dan kebandelan mereka. Iya, kadang gue mengakui kalo mereka bisa jadi masalah kalo lagi terlewat hyper. Gue punya beberapa murid yang memang kelewat aktif dan setiap di kelas mereka nggak pernah bisa diam. Ya, kalo nggak bisa diamnya cuma sebatas nggak berhenti ngoceh sih nggak masalah buat gue. Justru gue seneng liat anak kecil ngoceh,hehehehe. Berbeda dengan guru-guru lain di tempat kursus, gue justru sama sekali nggak melarang kalo murid gue mendadak jadi lebih bawel dan berceloteh terus nggak berhenti. Gue membiarkan mereka bercerita, walaupun kadang kalo didenger cerita mereka kebanyakan diulang-ulang dan kalo makin lama didenger makin nggak nyambung ceritanya. Tapi yeah, that's kids. Gue justru suka ketawa sendiri kalo denger celotehan-celotehan mereka yang nggak ada ujung depannya itu. Gue membiarkan mereka berceloteh dengan imaginasi mereka, dengan apa yang ada didalam otak mereka. Buat gue, agak kejam rasanya kalo gue mendiamkan mereka untuk duduk manis 1.5 jam terus mendengarkan kelas gue, padahal mereka anak kecil. Anak kecil yang selalu excited dan sibuk menceritakan setiap hal yang menarik perhatian mereka. Gue nggak mau membatasi imaginasi mereka, gue nggak mau membunuh impian-impian kecil mereka dan yang paling menyulitkan, gue nggak pengen merusak kepolosan mereka dengan teguran-teguran khas kebanyakan orang dewasa yang pada akhirnya justru membuat mereka tumbuh dalam sudut pandang yang negatif. They're kids, they're deserved to be happy.
Pernah waktu itu ada dua murid gue yang berantem di kelas. Dan saat itu gue berpura-pura untuk tidak mendengarkan mereka. Kalo dipikir-pikir anak kecil kalo lagi berantem itu lucu juga ya. Dan karena nggak mau ketinggalan adegan berkesan itu, gue pun memilih untuk diam sambil memeriksa beberapa buku berpura-pura nggak tahu kalo mereka lagi berantem.
"Aku musuan sama kamu. Aku nggak mau lagi temenan sama kamu." ujar Evelyn salah satu murid gue sembari menghembuskan jari telunjuknya. Kalo diperagakan itu memang lambang kenegaraan setiap anak kecil yang menyatakan permusuhan.
"Aku juga nggak mau lagi temenan sama kamu..Mendingan aku temenan sama monokorobo!" sahut Nia nggak mau kalah. Setau gue monokorobo itu adalah boneka-boneka babi asal jepang yang belakangan lagi jadi trend untuk anak kecil. Gue masih diam, belum mendamaikan mereka. Hehehehe, panggil gue guru aneh, tapi menurut gue tontonan seperti ini terlalu sayang untuk dilewatkan.
"Ahhh, cuma monokorobo aja...Papaku beliin aku avanza. Hayo, kerenan mana sama Monokorobo?" balas Evelyn sengit. Wah, makin seru aja perdebatan mereka. Hahahaha, gue pengen ngakak sejujurnya. Bisa-bisanya Evelyn membandingkan mainan monokrobo sama mobil avanza. Nah, sekarang mulai keliatan kan kalo anak kecil mudah sekali terpengaruh, sebagai bukti ya Evelyn dan Nia ini. Dua-duanya berlomba-lomba adu pamer. Walah-walah darimana mereka belajar seperti ini? Anak TK pun sudah adu pamer. Gue menggeleng-geleng, jadi prihatin rasanya.
"Nggak...Bagusan juga monokorobo. Itu lucu tauk!" kali ini nada suara Nia lebih tinggi. Baru kali ini gue melihat seekor monorobo ditandingkan sama mobil avanza. Hahahaha. Lucunya, Nia justru ngotot kalo monorobonya lebih lucu dari avanza. Dan keduanya nggak berhenti adu mulut membandingkan monokorobo dan mobil avanza. Nia dari kubu Monokorobo, dan evelyn dari kubu Avanza. Makin lama, dua anak ini makin panas. Kali ini, gue sempet liat mata evelyn mulai sedikit berkaca-kaca. Walah-walah, ribet nih jadinya kalo udah nangis.
Daripada ributnya jadi berkepanjangan gue pun mendamaikan keduanya. Khas guru-guru bijak (sok bijak tepatnya,haha), gue pun lalu memanggil keduanya kedepan. Gue mencoba membela keduanya supaya nggak ada yang merasa dianaktirikan. Baik monokorobo dan avanza, gue bilang dua-duanya itu lucu, dua-duanya hebat. Sama persis kaya Nia dan Evelyn, dua-duanya anak hebat. Lebih hebat lagi kalo mereka baikan dan temenan lagi. Ditambah dengan sejumlah wejangan-wejangan bla bla bla bla, gue coba mendamaikan mereka. Dan lucunya adalah mereka memang langsung salaman, baikan lagi. Tanpa ada embel-embel gengsi. Balik ketempat duduk, gue liat Evelyn dan Nia justru udah bergandengan tangan, akrab kaya kakak adik. Keduanya udah baikan lagi jadi temen. Dalam hati gue mikir, ya ampun anak kecil emang nggak punya problema. Coba kalo itu yang terjadi sama orang dewasa, rasanya susah banget bisa liat ada yang baikan dalam waktu secepat itu. Masing-masing punya ego sendiri, masing-masing punya kesombongan sendiri. Dan menurut mereka berdamai dengan cepat justu merusak ego mereka. Nah, sekarang keliatan kan bedanya anak kecil dan orang dewasa? Dalam hal ini, anak kecil jauh lebih unggul. Mereka lebih polos, lugu, nggak peduli gengsi dan mereka pecinta damai,hehehehe. Ini baru sebagian aja dari cerita gue tentang pengalaman gue ngajar di kelas TK. Kalo ditulisin semua, kayanya lebih pas kalo tulisan gue itu dibuat dalam chapter-chapter khusus,hehehe. Pasalnya memang banyak banget yang menarik untuk ditulisa dari mereka. Banyak banget ulah-ulah mereka yang membuat gue belajar sesuatu, dan gue selalu merasa damai kalo gue ada dideket-deket mereka. Yeah, kids are alwways wonderful, aren't they?