Rabu, 05 November 2008






Amon-Ra


Very generous, fruitful, people feel reassured around you, and willing to give their best.

Colors: male: yellow, female: orange
Compatible Signs:
The Nile, Horus
Dates:
Jan 8 - Jan 21, Feb 1 - Feb 11

Role: A god of the creation of the earth; the patron god of Thebes; and the king of all the gods of Egypt
Appearance:
Form of a man, wearing crown with the sun disc and double feather plumes. Sometimes shown with blue skin.
Sacred animals:
ram, goose


What is Your Egyptian Zodiac Sign?
Designed by CyberWarlock of Warlock's Quizzles and Quandaries



hahahaha, makin banyak aj beginian di blog gue..

Jumat, 31 Oktober 2008

yiiipppiiiiieeeeee!

Finally,
I've got a crush on somebody..
Here today!
Yiipppieeeeeeeeeeee:-)

Selasa, 28 Oktober 2008

Hasil uji tarot saya


You are Strength


Courage, strength, fortitude. Power not arrested in the act of judgement, but passing on to further action, sometimes obstinacy.


This is a card of courage and energy. It represents both the Lion's hot, roaring energy, and the Maiden's steadfast will. The innocent Maiden is unafraid, undaunted, and indomitable. In some cards she opens the lion's mouth, in others she shuts it. Either way, she proves that inner strength is more powerful than raw physical strength. That forces can be controlled and used to score a victory is very close to the message of the Chariot, which might be why, in some decks, it is Justice that is card 8 instead of Strength. With strength you can control not only the situation, but yourself. It is a card about anger and impulse management, about creative answers, leadership and maintaining one's personal honor. It can also stand for a steadfast friend.


What Tarot Card are You?
Take the Test to Find Out.

Kamis, 23 Oktober 2008

Soundtrack of my life

Gue pecinta musik, dari dulu sampai sekarang dan gue rasa akan sampai selama-lamanya gue cinta musik. Menurut gue tiap kali adegan dalam hidup gue selalu diiringi musik, ibarat soundtrack dalam sebuah film. Gue pikir setiap orang pasti punya soundtrack dalam hidupnya, musik yang mengiringi dan menjadi saksi bisu perjalanan hidup kita. Dan gue bahagia bisa menemukan pelipur lara gue di dalam musik. Dibawah ini gue coba menguraikan musik-musik yang jadi soundtrack hidup gue.

Here Today by Fugu
Wah, ini lagu gue kalo lagi ketemu gebetan yang menarik di hati gue (masih tahap gebetan lo ya, bukan cinta). Seharian gue bakal senyum-senyum ga jelas. Berharap dia noticed gue ada. Setiap saat mikirin dia. Mulai dari bangun pagi, waktu mandi, waktu ngantri di busway, waktu makan, waktu tidur, bla bla bla..Otak gue seakan isinya cuma dia seorang. Bibir gue seharian akan terangkat terus ke atas membentuk sebuah senyum. Nah, pas moment seperti inilah, lagu ini pas banget jadi soundtrack hidup gue.
"I'm in love..I'm in love... here today..."

Relax by Mika
Lagu ini bener bener pas meng calm down gue kalo gue lagi panik. Waktu itu gue pernah panik banget lantaran gue tau gue bakal terlambat buat interview kerja. Janjinya jam 11, tapi udah jam 10.50 dan taksi gue masih stuck di Monas. Maceettt. Sedangkan interview gue ada di menara Thamrin. Wah, gue nggak mau sampai telat. Gue panik. Gue puter otak. Tadinya mau naik busway dengan pertimbangan lebih nggak macet.Tapi anjriitttt, jalur busway juga macet. Shit! Nah, kali ini gue nggak punya pilihan lain lagi, alias pake cara manual. Ya, lari! Gue lari boo dari patung kuda sampe ke Menara Thamrin. Wuih, keadaannya heboh banget. Gue serasa lari-lari di film action. Kalo di film-film mungkin adegan ini akan ditambah lagu Relax, take it easynya Mika. Wah, pas banget lagunya. Beatnya juga menegangkan persis mewakili apa yang gue rasakan waktu itu.

Do what you wanna do by Mocca
Nah, lagu ini asyik banget buat didengerin sembari berleha-leha santai. Sambil berlenje-lenje sesuka hati. Hehehehe, gue menamakannya the art of doing nothing.
"Do what you wanna do..Say what you wanna say, syalalalala!"

Fix you by Coldplay
Ada kalanya gue bener-bener merasa kelam. Saat gue bener-bener merasa capek, merasa nggak berdaya, merasa sedih, down, lagu ini bener-bener jadi curahan hati gue.
"When you try your best but you don't succeed.. When you get what you want but not what you need..When you feel so tired but you can't sleep..Lights will guide you home..And ignite your bones...And I will try to fix you" Sambil ngarep Chris martin bener ngomong gitu ke gue, (hahahaha...ngarep).

Mr Brightside by The Killer.
Nah, ini bener-bener soundtrack gue kalo gue lagi kacau. Dan rasanya gue pengen banget goyang. Wah, lagu ini akan gue setel sekenceng-kencengnya trus gue goyang segoyang-goyangnya. Sekali-kali gue niruin gaya rock star yang suka mengayunkan kepala ke depan ke belakang. Sesekali gue goyang ala goyangan ala inul yang hot dengan gaya ngebornya. Nggak jelas juga sih goyangannya mirip atau nggak, yang pasti goyaaaaaaaaannng terusss. Biar jelek, biar malu-maluin yang penting happy.

Drive by Incubus
Apapun yang terjadi besok, terjadilah. Wah, lagu ini paling pas kalo gue lagi tegang menantikan hari esok.
"Whatever tomorrow brings..I'll be there..With open arms and open mind.."

Quando by Michael Bubble.
Nah, kalo yang ini pure imaginasi gue. Ceritanya gue lagi kencan di satu tempat yang fancy sama gebetan idaman gue. Let say di salah satu roof top yang pemandangannya indah banget. Dengan suasana yang romantis, ditemani lampu temaram yang romantis, gue dan pasangan date gue ngobrol santai. Persis yang kaya di film-film itu lho (hehehe, tipikal cewe zaman sekarang banget ya maunya). Dan makin lama, kita makin merasa nyaman satu sama lain trus kita mulai dansa. Dansa oh dansa...Agak menjijikkan ya kalo yang ini,hehehe.

Stuck in Moment by U2
Gue pecinta U2, dari dulu sampe sekarang. Biar gue dikata oldies, ahh masa bodo lah. Lagu ni jadi soundtrack gue setiap saat. No more further reason.

Independent Woman by Independece Woman.
Ada kalanya jiwa emansipasi gue keluar dan gue merasa bangga banget jadi perempuan. Gue bisa melakukan apapun yang gue suka karena usaha gue sendiri. Yes, yes, yes, gue diberkahi kesempatan untuk menjadi independent di usia gue yang masih mungil, semungil biji jagung ini. Hohohoho, however I pay my own bill. Dan somehow gue pengen aja celebrate hasil jerih payah gue. Nah disaat itulah lagu ini sukses banget jadi soundtrack gue.

The Call by Regina Spektor.
Lagu ini sukses menduduki peringkat teratas untup top soundtrack of y life. Wah, lagi hobi banget denger lagu ini. Apalagi saat hujan, trus duduk di deretan bangku busway paling belakang. Wuih, heavenly peace.

Anyway itu cuma segelintir dari soundtrack-soundtrack yang mengisi hari-hari gue. Masih banyak lagu-lagu yang jadi soundtrack dalam hidup gue. Nggak akan ada abisnya kalo gue jabarin. that's my soundtracks..What's yours?

Black & White

When I born, I black
When I grow up, I black
When I go in the sun, I black
When I scared, I black
When I sick, I black
And when I die, I still black
And you white fellow…
When you born, you pink
When you grow up, you white
When you go in sun, you red
When you cold, you blue
When you scared, you yellow
When you sick, you green
And when you die, you gray
And you calling me colored?

This poem was nominated by UN as the best poem in 2006, written by African kid

Minggu, 19 Oktober 2008

Sampah boleh dibuang di kali!

Kemaren waktu ngantri busway, gue sempet liat satu adegan yang benar-benar nggak gue sangka. Ceritanya begini, waktu gue ngantri ada satu keluarga di belakang gue yang juga lagi ngantri. Ada ayah, ibu dan sepasang anak kecil. Sepasang anak itu kira-kira berumur sekitar 8 tahun untuk yang tertua dan 5 tahun untuk si kecil. Sembari ngantri dua anak itu memegang bungkusan Chiki Taro, yang tua pun menawarkan chiki tersebut pada sang adik. Setelah habis, anak tertua langsung membuang bungkusan Taro itu sembarangan di dalam halte. Wah, ini bad habbit pikir gue. Nggak heran Jakarta banyak sampah, wong anak kecil udah dibiasakan buang sampah jakarta sembarangan. Kalo gue perhatiin ini berakar, turun temurun, udah menjadi semacam kebiasaan bawah sadar setiap warga kota ini.

Nggak lama kemudian si ayah pun buru-buru melarang anaknya yang tadi hendak membuang sampah sembarangan.
"Ade jangan buang sampah disini. Nanti diomelin sama bapak itu lho (sambil menunjuk petugas busway)." Nah, ini dia. Akhirnya ada juga orang yang sadar akan bahaya buang sampah sembarangan. Dalam hati gue bersyukur. Tapi belum habis rasa syukur gue tiba-tiba bapak itu bilang begini, "Kalo mau buang sampah di kali aja. Jangan buang disini. Kalo di kali boleh." ujar si ayah tampak yakin dan bangga. Jegeerr, antara pengen ketawa karena lucu atau miris, gue cuma bisa tersenyum kecut. Setidaknya gue mulai paham, sekarang gue ngerti kenapa Jakarta nggak pernah bisa bersih kaya kota-kota di negara lain. Gue kaget denger penjelasan si ayah tadi. 'Kalo di kali boleh.', kalimat ini diucapkan dengan penuh keyakinan oleh si ayah. Seakan itu memang tertulis di buku yang pernah dibacanya. Gue nggak ngerti darimana si ayah bisa punya pemahaman seperti itu. Cuma menurut gue ini meprihatinkan.

Jangankan berharap mereka ngerti soal Global Warming yang belakangan heboh wara-wiri di semua media. Untuk pengetahuan seputar membuang sampah aja, mereka masih belum tau. Apa yang mungkin bisa dilakukan?

Gue bisa mengaitkannnya dengan analogi, pohon yang semakin besar batangnya, akan semakin besar akarnya dan akan semakin sulit untuk ditebang. Sama halnya dengan kebiasaan,. pemikiran dan kepercayaan yang sudah lama mendarah daging dalam diri seseorang juga akan sulit diubah. Entah kenapa gue yakin, si ayah tadi meskipun diberitahu bahwa membuang sampah di kali itu tidak baik, nantinya pasti si ayah akan tetap bersikeras melawan dan terus menganggap bahwa membuang sampah di kali adalah sesuati yang wajar, sewajar membuang sampah di tempat sampah. Mungkin kali sudah menjadi semacam tong sampah mereka. .

Well, ini nggak bisa disalahkan. Wong, ini sudah berakar dan mendarah daging, mau diapain tetep aja susah. At the end, untuk siapapun yang menjadi duta lingkungan terutama dalam hal pencegahan global warming, gue cuma bisa bilang "Good luck. Tough job, bro!"

I wish I know what I really want!

I'm not looking for someone to talk to
I've got my friends, I'm more than ok
I've got more than a girl could wish for
I live my dreams but its not all they say
Still I believe I'm missing something real
I need someone who really sees me

Loves for a lifetime not for a moment
So how could I throw it away
Yeah I'm only human
And nights grow colder
With no-one to love me that way
Yeah I need someone who really sees me


The Corrs - All the love in the world.

Tadi pagi begitu gue denger lagu ini di radio gue langsung tertegun. Lirik awalnya bener-bener mewakili apa yang gue rasain sekarang. Lots of girls around me still dream about their dream boy..What about me? Gue juga begitu. Tapi dream boy yang bagaimana? Gue bingung jawabnya. Mau gue banyak. Harapan gue banyak. Impian gue banyak. Terlalu banyak sampai semua itu jadi absurd di mata gue. Terlalu banyak sampai gue terjatuh dengan semua mimpi-mimpi itu. Kenapa gue nggak bisa menerima ketidaksempurnaan? Why I always seek for a perfection? Dari mana asalnya kesempurnaan? Apa ada yang bener-bener sempurna? Lagipula siapa gue? Kenapa gue yakin pantas mendapatkan yang sempurna?

Mereka bilang gue pemilih. For some people mereka cenderung nganggap gue dingin, nggak punya perasaan, nggak punya cinta. Am I? Gue nggak tau pasti. Sekali lagi gue tertegun. Apa bener gue sedingin itu? Gue juga nggak pengen begitu. Trus apa yang gue pengen? Ahh, gue juga ga tau apa mau gue.. I wish I know what I really want.

Geez, kenapa mendadak gue jadi melodrama begini ya? Pertanyaan demi pertanyaan datang terus tanpa jawaban yang pasti. Tapi yang pasti gue juga butuh cinta, just like others!

Minggu, 12 Oktober 2008

I am Sam

Ini film bagus yang gue rekomendasikan kepada siapapun pecinta film. Berawal dari kekurangkerjaan gue selama liburan, mulailah gue mengacak lemari DVD koleksi kakak gue sampai gue menemukan DVD ini. Awalnya gue kurang tertarik, mengingat covernya yang nggak terlalu stunning menurut gue. Tapi mengingat jajarannya castnya lumayan, Sean Penn, Michelle Pfeiffer, dan little Dakota Fanning, akhirnya gue memutuskan untuk nonton film ini. Konon kabarnya ini adalah film pertamanya Dakota Fanning. Wah, kalo iya ga heran sih aktris kecil ini begitu banyak diperbincangkan orang. Dakota Fanning tampil memukau, gue nggak habis pikir bagaimana mungkin aktris sekecil ini bisa berakting sehebat itu. Terlebih lagi Sean Penn, (hehehehe, actually ini reason utamanya, gue suka banget sama Sean Penn), aktingnya bagus banget. Ini kisah tentang cinta seorang ayah pada anaknya.

Disini diceritakan Sam (Sean Penn) adalah seorang pria yang memiliki keterbatasan pada otaknya, dia hanya mempunyai kapasitas memori otak seorang anak 7 tahun. Dengan segala keterbatasannya, dia berhasil mengasuh anaknya, Lucy (Dakota Fanning) yang langsung ditinggal ibunya begitu keluar dari rumah sakit pasca melahirkan. Nah, dari sinilah kisahnya dimulai. Ada begitu banyak keharuan di film ini. Semuanya berpulang pada cinta. Love is all you need. Dengan segala keterbatasannya Sam menyalurkan sepenuh cinta pada Lucy, dan Lucy pun begitu mencintai ayahnya. Masalah datang karena hukum di Amerika melarang Lucy untuk diasuh oleh ayahnya mengingat keterbatasan fisik yang dimiliki oleh Sam. Oleh karena itu diadakan semacam pengadilan untuk memutuskan nasib Lucy, apakah gadis kecil ini akan tetap diasuh ayahnya atau diadopsi keluarga lain? Sam yang kesehariannya bekerja sebagai pegawai Starbucks lalu berusaha meminta bantuan Rita (Michelle Pfeiffer), seorang pengacara muda yang sukses dan sibuk. Akhirnya Rita pun berhasil dibujuk. Sidang demi sidang dilewati untuk memperjuangkan Lucy.

Gue nggak akan menceritakan bagaimana ending film ini karena gue recommend banget film ini untuk ditonton. 2 jam lebih gue nonton film ini and I just cant stop my tears. Akting Sean Penn yang berperan sebagai orang dengan keterbatasan otak bener-bener stunning. Dia menghidupkan karakter itu dan membuat kita begitu tersentuh. Film ini sekaligus mengajarkan cinta. Cinta, cinta, ya gue tahu hampir semua film menyuarakan hal yang sama. Tapi ini berbeda. Gue belajar disini bahwa cinta sekalipun tidak mengenal batas, nggak ada yang bisa menghalangi besarnya cinta seorang ayah kepada anaknya yang meskipun terpisah mereka tetap berada dalam ikatan yang kuat. Gue selalu menganggap sebuah film itu bagus ketika gue merasa gue bisa ikut berkomunikasi dengan film itu. Film ini membuat gue berkomunikasi sepanjang filmnya, gue belajar dan pikiran gue terbuka. Musik di film ini pun memegang kunci yang membuat film ini begitu menyentuh karena begitu menghidupkan suasana keharuan disana. Dengan remake lagu-lagu The Beatles, film ini jadi tambah indah.

Really guys, you should watch this movie. Damn, this is the best movie I've ever seen!

Selasa, 23 September 2008

Anything Other Than Me

I don't want to be
Anything other than what I've been trying to be lately
All I have to do
Is think of me and I have peace of mind
I'm tired of looking 'round rooms
Wondering what I've got to do
Or who I'm supposed to be
I don't want to be anything other than me


Taken from Gavin Mc Graw ( "I dont want to be")

Ketika si bau kencur merasa gagal

Makin lama makin gue perhatiin kok tulisan blog gue semua panjang-panjang ya?

Copywriter senior gue juga berpendapat begitu.

Temen-temen gue juga berpendapat begitu.

Art Director wannabe (maksud gue temen magang) gue juga berpendapat begitu.

Seorang art director dari agency lain juga berpendapat begitu.

Nyokab gue juga berpendapat begitu.

Gue pun berpendapat begitu.

Gue punya kebiasaan menulis dengan panjang. Padahal gue nggak mau juga nulis panjang-panjang. Gue jutru pecinta tulisan pendek, yang ringkas, padat, dan jelas. Tapi kenapa gue ga bisa nulis pendek ya? Walah-walah, there must be something wrong with me.
Aaaaaaaaarrrggghhh, still need to learn to make a short copy.

Minggu, 21 September 2008

Art of Advertising

"The Art of Advertising is about reduction, the ability to write less and say more."

Selasa, 16 September 2008

Kalau bukan kita siapa lagi?

Setelah gue inget-inget, dari kecil gue memang sudah dikaruniai kemampuan menghibur diri sendiri. Dan sedikit banyak gue bersyukur sama kemampuan luar biasa ini, hehehe. Menurut gue luar biasa karena nggak setiap orang bisa menghibur dirinya sendiri. Kalo nggak ada yang bisa menghibur kita dikala hati sedih, resah dan marah, ya kita hibur aja sendiri. Minimal itu prinsip gue.

Gue inget dulu waktu SMP gue pernah jadi ketua OSIS di sekolah gue. Wah, rasanya waktu itu bangga bukan main. Banggalah secara dipilihnya lewat pemilihan suara. Artinya temen-temen suka sama gue, artinya gue punya banyak temen, banyak pendukung. Seneng banget rasanya tahu kalo ternyata kita disenangi hampir semua orang di sekitar kita. Dan untuk ukuran anak SMP zaman dulu masuk OSIS itu kebanggaan tersendiri. Apalagi jadi ketuanya, nah bisa kebayang kan senangnya gue waktu itu?

Jujur awalnya gue nggak tahu apapun tentang Ketua OSIS, yang gue tau cuma 'Wah, kayanya keren nih kalo gue jadi ketua OSIS.' Ya, parah memang. Jadi gue pengen masuk OSIS karena embel-embel kerennya doang. Gue bahkan nggak tau apa tugasnya Ketua OSIS. Gue pikir ketua ya cuma ketua. Tugasnya ongkang-ongkang kaki nunggu laporan dari anak buah, beres. Tapi ternyata dugaan gue salah. Justru jadi ketua itu nggak mudah, apalagi kalo anak buahnya adalah sekumpulan anak-anak SMP yang juga bau kencur nggak tahu apa-apa. Gimana mau nunggu laporan kalo ternyata anak buah gue juga sama bodohnya kaya gue, nggak tahu apa yang harus dikerjain. Nah, dari sanalah upaya gue menghibur diri sendiri mulai berlangsung. Gue banyak melakukan kekacauan selama gue jadi Ketua OSIS. Dan sepertinya kepala sekolah gue nggak pernah suka dengan apapun yang gue lakukan. Kebetulan kepala sekolah gue, Bu Ratna adalah orang yang sangat tegas, disiplin (baca galak dan banyak mau). Satu sekolah udah mengakui hal itu. Jadilah gue sering ditegur sama dia. Ya kalo ditegur secara baik-baik sih gue nggak masalah, tapi kalo tegurnya untuk menuju ke gertakan, gue agak shock juga. Terlebih kalo digertak di depan satu sekolah. Walah, mau ditaruh kemana lagi muka gue?

Pernah sekali waktu, gue ditegur waktu upacara sekolah. Dan biasanya upacara di sekolah gue itu memang gabungan. Jadi sekalinya diadakan upacara, satu lapangan penuh sama anak SMP dan juga SMA. Nah, ya saudara-saudari, disanalah gue digertak. Gue inget banget suasanya saat itu. Hening, nggak ada suara. Cuma suara Bu Ratna yang terdengar, makin lama makin keras, suara itu menusuk kekedalaman paling dalam jantung seorang jenny kecil. Gila, gue nggak pernah nyangka bisa ditegur ditengah-tengah amanat pembina upacara. Gue pikir palingan Bu Ratna cuma akan mencomplain beberapa kelakuan murid yang nggak dia suka. Karena biasanya memang begitu amanatnya. Setiap amanat pembina upacara, pasti selalu saja ada hal-hal yang dicomplain Bu Ratna, mengingat dia memang selalu jadi pembina upacara di hampir setiap upacara bendera. Gue masih ingat kata-katanya hari itu.

"Kamu jadi ketua kok nggak becus! Ini program udah saya tunggu-tunggu. Tapi mana? Jadi ketua kok nggak bisa ngurus anak buah. Kamu pikir jadi ketua itu ngapain emang? Cuma seneng-seneng?Kalo ketuanya bodoh kaya kamu, gimana anak buahnya?" jreggggggggggggg, jantung gue berdetak nggak karuan. Satu lapangan hening. Bener-bener hening. Muka gue merah padam, sejujurnya gue agak marah kenapa dia mesti menegur gue dihadapan orang sebanyak itu. Walah, malah ada kakak kelas gebetan gue disana. Hancur sudahlah image gue. Sekilas gue sempet melihat muka-muka prihatin temen gue. Nggak cuma temen, beberapa guru pun melirik kasian ke gue. Mungkin mereka pikir gue memang kebetulan sial disamber Bu Ratna kaya begini karena mood nya Bu Ratna lagi jelek. Bukan rahasia lagi memang, seantero sekolah paham betul gelagat-gelagat Bu Ratna. Kalo lagi badmood pasti satu sekolah kena imbas. Guru-guru pun kena, tak terkecuali.

Gila, gue nggak pernah membayangkan akan ada kejadian seperti ini dimana gue ditegur secara keras di hadapan satu antero sekolah. Gue malu, maluuuuuuuuu bangettt. Malu bercampur sedih. Sedih bercampur marah. Marah bercampur kecewa. Ya memang campur-campur rasanya. Setiap kalimat Bu Ratna hari itu selalu terngiang dalam otak gue.

Buat gue yang waktu itu baru 13 tahun, itu pukulan yang lumayan berat. Gue sempet mikir, apa bener ya gue ketua yang nggak becus? Apa bener gue bodoh? Bagaimana tanggapan temen-temen gue mengenai hal ini? Apa mereka akan berpikir hal yang sama? Jangan-jangan mereka tertawa di belakang gue. Jangan-jangan mereka nggak mau lagi temenan sama gue. Bla...bla..bla...Segala macam pikiran negatif campur-campur nggak karuan di otak gue. Ya mungkin memang gue yang kelewat manja. Sebelumnya gue memang nggak pernah dapat teguran sekeras itu. But you know what, I learn to cheer up my self.

Pulangnya, gue lesu banget. Sampai bokap nyokab gue bingung liat muka gue yang kecut banget. Gue pengen ngadu sama mereka tapi keburu gengsi karena nggak mau dianggap anak kecil yang nggak sanggup nerima pukulan (gila, dari zaman bocah-bocahnya gue emang banci gengsi). Dan akhirnya gue mulai menciptakan skenario sendiri dalam otak gue untuk menghibur diri sendiri. Gue membayangkan diri gue sedang berada di pantai, di pantai yang sepi. Disana gue rileks sambil ditemani Johnny Depp (maklum dari zaman dulu gue emang udah cinta sama makhluk ini). Trus sambil menikmati keindahan di pantai itu, gue melihat Bu Ratna yang lagi berlari ketakutan dengan baju compang camping karena dikejar hiu lapar. Dia minta-minta tolong sama gue. Tapi gue cuma tertawa. Selain dikejar hiu, dia juga dikejar cumi raksasa. Bu Ratna berteriak minta tolong. Dia tampak ketakutan. Dia nangis-nangis minta maaf nggak akan ngomelin gue lagi asalkan gue mau nolong dia. Hahahaha, dan ternyata gue cuma tertawa ngakak. Dengan gaya angkuh, gue bilang 'apa yang kamu tanam itulah yang kamu petik. Siapa suruh tadi ibu marahin saya, sekarang mampus ibu kena getahnya.' Yayaya, ini memang pembalasan dendam yang agak brutal. Tapi toh pada akhirnya gue berhasil tersenyum lagi dengan imaginasi gue barusan. Gue tersenyum dengan apa yang gue pikirkan dalam otak gue tadi. Kedengarannya memang kejam, tapi sekali lagi ini kan cuma imaginasi. Gue nggak mau down terus-terusan gara-gara gertakan sialan tadi. Makanya gue cari penghiburan sendiri and it works ternyata,hehehehe.

Somehow gue merasa imaginasi adalah jalan terbaik untuk menghibur diri gue. Kadang kenyataan yang ada didepan kita terlalu kabur dan ruwet. Memang sih imaginasi nggak akan menyelesaikan masalah. Ada yang bilang 'we cannot run away from reality as we cannot run away from our shadow.' Tapi kita kan ada kalanya kita bisa menyembunyikan bayangan itu untuk sementara waktu,hehehe (maksa ya?). Ya, intinya gue cuma mau bilang kita berhak menghibur diri kita sendiri apapun caranya selama itu tidak menyakiti orang. Kalau bukan kita siapa lagi?

Life and Work

Am I Filling My Life with Work,
Or am I Filling My Work with Life?

Senin, 15 September 2008

kala avanza dan monokorobo diadu

Lama nggak ngajar, tiba-tiba gue kangen pengen ngajar lagi. Kangen pengen ketemu murid-murid gue.Kangen denger celotehan-celotehan lucu mereka. Kangen melihat mata-mata excited mereka setiap kali gue mulai mendongengkan cerita buat mereka. Gue kangen murid-murid gue.

Oh ya, sebelumnya biar gue jelaskan dulu, gue sempet jadi guru TK dan anak kecil di sebuah sekolah kursus bahasa. Murid- murid gue kebanyakan anak TK, ada beberapa yang udah SD dan SMP, tapi kebanyakan TK.

Sejujurnya buat gue ngajar anak TK itu menyenangkan. Selalu ada hal-hal baru yang menarik perhatian gue setiap gue ngajar anak TK. Mereka membuka mata gue dengan kelucuan, kepolosan dan kebandelan mereka. Iya, kadang gue mengakui kalo mereka bisa jadi masalah kalo lagi terlewat hyper. Gue punya beberapa murid yang memang kelewat aktif dan setiap di kelas mereka nggak pernah bisa diam. Ya, kalo nggak bisa diamnya cuma sebatas nggak berhenti ngoceh sih nggak masalah buat gue. Justru gue seneng liat anak kecil ngoceh,hehehehe. Berbeda dengan guru-guru lain di tempat kursus, gue justru sama sekali nggak melarang kalo murid gue mendadak jadi lebih bawel dan berceloteh terus nggak berhenti. Gue membiarkan mereka bercerita, walaupun kadang kalo didenger cerita mereka kebanyakan diulang-ulang dan kalo makin lama didenger makin nggak nyambung ceritanya. Tapi yeah, that's kids. Gue justru suka ketawa sendiri kalo denger celotehan-celotehan mereka yang nggak ada ujung depannya itu. Gue membiarkan mereka berceloteh dengan imaginasi mereka, dengan apa yang ada didalam otak mereka. Buat gue, agak kejam rasanya kalo gue mendiamkan mereka untuk duduk manis 1.5 jam terus mendengarkan kelas gue, padahal mereka anak kecil. Anak kecil yang selalu excited dan sibuk menceritakan setiap hal yang menarik perhatian mereka. Gue nggak mau membatasi imaginasi mereka, gue nggak mau membunuh impian-impian kecil mereka dan yang paling menyulitkan, gue nggak pengen merusak kepolosan mereka dengan teguran-teguran khas kebanyakan orang dewasa yang pada akhirnya justru membuat mereka tumbuh dalam sudut pandang yang negatif. They're kids, they're deserved to be happy.

Pernah waktu itu ada dua murid gue yang berantem di kelas. Dan saat itu gue berpura-pura untuk tidak mendengarkan mereka. Kalo dipikir-pikir anak kecil kalo lagi berantem itu lucu juga ya. Dan karena nggak mau ketinggalan adegan berkesan itu, gue pun memilih untuk diam sambil memeriksa beberapa buku berpura-pura nggak tahu kalo mereka lagi berantem.

"Aku musuan sama kamu. Aku nggak mau lagi temenan sama kamu." ujar Evelyn salah satu murid gue sembari menghembuskan jari telunjuknya. Kalo diperagakan itu memang lambang kenegaraan setiap anak kecil yang menyatakan permusuhan.

"Aku juga nggak mau lagi temenan sama kamu..Mendingan aku temenan sama monokorobo!" sahut Nia nggak mau kalah. Setau gue monokorobo itu adalah boneka-boneka babi asal jepang yang belakangan lagi jadi trend untuk anak kecil. Gue masih diam, belum mendamaikan mereka. Hehehehe, panggil gue guru aneh, tapi menurut gue tontonan seperti ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

"Ahhh, cuma monokorobo aja...Papaku beliin aku avanza. Hayo, kerenan mana sama Monokorobo?" balas Evelyn sengit. Wah, makin seru aja perdebatan mereka. Hahahaha, gue pengen ngakak sejujurnya. Bisa-bisanya Evelyn membandingkan mainan monokrobo sama mobil avanza. Nah, sekarang mulai keliatan kan kalo anak kecil mudah sekali terpengaruh, sebagai bukti ya Evelyn dan Nia ini. Dua-duanya berlomba-lomba adu pamer. Walah-walah darimana mereka belajar seperti ini? Anak TK pun sudah adu pamer. Gue menggeleng-geleng, jadi prihatin rasanya.

"Nggak...Bagusan juga monokorobo. Itu lucu tauk!" kali ini nada suara Nia lebih tinggi. Baru kali ini gue melihat seekor monorobo ditandingkan sama mobil avanza. Hahahaha. Lucunya, Nia justru ngotot kalo monorobonya lebih lucu dari avanza. Dan keduanya nggak berhenti adu mulut membandingkan monokorobo dan mobil avanza. Nia dari kubu Monokorobo, dan evelyn dari kubu Avanza. Makin lama, dua anak ini makin panas. Kali ini, gue sempet liat mata evelyn mulai sedikit berkaca-kaca. Walah-walah, ribet nih jadinya kalo udah nangis.

Daripada ributnya jadi berkepanjangan gue pun mendamaikan keduanya. Khas guru-guru bijak (sok bijak tepatnya,haha), gue pun lalu memanggil keduanya kedepan. Gue mencoba membela keduanya supaya nggak ada yang merasa dianaktirikan. Baik monokorobo dan avanza, gue bilang dua-duanya itu lucu, dua-duanya hebat. Sama persis kaya Nia dan Evelyn, dua-duanya anak hebat. Lebih hebat lagi kalo mereka baikan dan temenan lagi. Ditambah dengan sejumlah wejangan-wejangan bla bla bla bla, gue coba mendamaikan mereka. Dan lucunya adalah mereka memang langsung salaman, baikan lagi. Tanpa ada embel-embel gengsi. Balik ketempat duduk, gue liat Evelyn dan Nia justru udah bergandengan tangan, akrab kaya kakak adik. Keduanya udah baikan lagi jadi temen. Dalam hati gue mikir, ya ampun anak kecil emang nggak punya problema. Coba kalo itu yang terjadi sama orang dewasa, rasanya susah banget bisa liat ada yang baikan dalam waktu secepat itu. Masing-masing punya ego sendiri, masing-masing punya kesombongan sendiri. Dan menurut mereka berdamai dengan cepat justu merusak ego mereka. Nah, sekarang keliatan kan bedanya anak kecil dan orang dewasa? Dalam hal ini, anak kecil jauh lebih unggul. Mereka lebih polos, lugu, nggak peduli gengsi dan mereka pecinta damai,hehehehe. Ini baru sebagian aja dari cerita gue tentang pengalaman gue ngajar di kelas TK. Kalo ditulisin semua, kayanya lebih pas kalo tulisan gue itu dibuat dalam chapter-chapter khusus,hehehe. Pasalnya memang banyak banget yang menarik untuk ditulisa dari mereka. Banyak banget ulah-ulah mereka yang membuat gue belajar sesuatu, dan gue selalu merasa damai kalo gue ada dideket-deket mereka. Yeah, kids are alwways wonderful, aren't they?

Rabu, 10 September 2008

Where is the love?


Belakangan ini gue baru sadar, gue udah lama banget nggak jatuh cinta, gue lupa rasanya jatuh cinta, gue lupa indahnya jatuh cinta. Atau malahan gue memang nggak pernah jatuh cinta ya? Ini lucu, diumur gue yang 21 tahun gue baru sadar gue bener-bener ga pernah merasa jatuh cinta. Walahhhhh, tragisnnya hidup ini. Gue baru tersadarkan lewat pembicaraan gue sama seorang temen gue di YM. Gue lupa waktu itu kita lagi ngomongin apa, tapi temanya soal pasangan hidup kalo nggak salah. Sampai satu kalimat yang gue tulis, 'I've never been in love.' Tulisan itu keluar begitu aja dengan sendirinya. Gue juga nggak sadar sama tulisan gue ini. Tapi jeda berikutnya, gue tertegun sebentar. Dan gue baca lagi tulisan gue itu sampai akhirnya gue tertawa kecut sendiri. Dear God, if love is the most beautiful and powerful thing in this world, where am I now?
Dulu, duluuuuuuu sekali, zaman-zamannya SMP gue pernah sih ngerasain yang namanya jatuh cinta. Rasanya memang indah, walaupun gue nggak yakin kalo sebenarnya itu namanya jatuh cinta. Naksir-naksiran sepertinya lebih pas. Cinta monyet kayanya lebih tepat.

Biasalah kaya anak- anak lain, ceritanya gue ini jatuh cinta sama kakak kelas gue yang emang terkenal cool satu sekolah (tipikal remaja baru gede, naksirnya sama yang paling populer seantero sekolah). Wah, kalo gue inget masa-masa itu sumpaaahhh culuuun banget. Masa-masa paling goblok hidup gue,hehehe. Gue inget banget dulu gue selalu berusaha curi-curi pandang terus ke dia. Tapi begitu dia nya nengok ke gue, gue diam 1000 bahasa, salting. Gue sama sekali nggak pernah ngomong sama dia, kenal aja nggak, apalagi ngobrol. Cinta sepihak, huhuhu...Parahnya lagi, entah kenapa kalo ketemu dia gue jadi cenderung melakukan hal-hal bodoh. Pernah misalnya gue ketimpuk bola basket tepat depan dia. Anjrittt bola basket itu melayang dan jatuh tepat dikepala gue. Kepala gue oleng, gelap gulita. Rasanya pengen pingsan. Tapi.....jangan! Ada dia disana, gimanapun gue harus terlihat cool di depan dia. Semua yang ada disana panik begitu bola terkutuk itu jatuh dikepala gue. Semua ngerubungin gue. Terutama yang melemparkan bola itu. Dan akhirnya dengan sejuta gengsi yang sebenarnya tololnya minta ampun, gue berusaha bangun dan berjalan dengan coolnya seakan gue nggak sakit sama sekali. Padahal...Ya ilah, bola basket itu kan segede-gede gaban, dan coba aja itu kalo jatuh depan lo, mantap rasanya. Kalo nggak sakit sih, hebat!

Pernah juga waktu itu gue mau disuruh sama guru biologi gue buat ambil apa lah, gue lupa. Setahu gue waktu itu, kelasnya memang kelas kosong, jadi nggak pernah ada orang dikelas itu. Itu jadi semacam gudang guru-guru buat taruh buku. Maka masuklah gue ke kelas itu dengan tenang dan PD. Dan jreek, begitu pintu terbuka, gue liat segerombolan cowok lagi ganti baju disana. Semuanya kontan jadi bengong begitu liat gue. Gue pun bengong. Semuanya bengong. Nggak enak banget rasanya masuk keruangan yang isinya cowok setengah bugil semua. Dan oh my god, ternyata ada dia juga disana. Tapi akhirnya semua ketawa-ketawa aja dan gue buru- buru keluar dari kelas itu. Ya ya ya, kalo diiinget-inget udah sering banget gue memberikan tontonan gratis adegan slapstick di depan dia.

Kalo dia pulang sekolah, sering banget secara diam-diam gue ngekor dibelakang,hehehe (freak banget ya gue dulu). Tapi begitu dia nengok dan nyadar ada gue dibelakangnya, sekali lagi gue sok cool. Dan entah ini perasaan gue aja atau nggak, gara-gara kontak-kontak bodoh seperti itu dia jadi lebih sering perhatiin gue. Ya, mungkin gue cuma dianggap cewek freak kali ya,hahaha. Sampai akhirnya dia terlanjur lulus dan nggak ada perkembangan apapun yang terjadi antar gue dan dia.

Hihihihi, kalo diinget-inget lagi rasanya lucu juga. Agak geli sih. Tapi setidaknya itu kenangan manis. Kenangan manis dibalik tembok sekolah.

Sekarang kalo gue flash back lagi, gue pengen jadi balik ke masa dulu. Masa dimana gue pernah ngerasain indahnya jatuh cinta. Tapi apa ya yang salah sama gue? Karena setelah cinta monyet SMP itu gue nggak pernah lagi ngerasain jatuh cinta. Gue nggak pernah lagi ngerasa salting atau ngelakuin hal-hal konyol di depan gebetan gue. Gue suka iri kalo liat temen-temen gue yang lagi jatuh cinta atau kasmaran. Sepertinya hidup mereka lebih berwarna. Gue nggak memungkiri pernah sih sekali-kali gue pernah naksir sama kakak kelas kaka kelas bermuka lucu semasa SMA gue. Tapi that's it, cuma sebatas naksir. Nggak lebih. Temen-temen gue selalu bilang kalo gue look up too high. Gue susah jatuh cinta karena kriteria gue terlalu tinggi. Hm, apa iya ya? Dan gue kadang terlalu sibuk sama kegiatan gue sendiri alhasil gue pun nggak punya waktu untuk mikirin cinta. Sekarang kalo gue pikir, itu mungkin juga. Selama ini gue memang nggak merasa ada yang kurang sama hidup gue. Gue punya cukup banyak kegiatan dan teman-teman yang ngisi hidup gue, jadi gue nggak terpikir untuk jatuh cinta. Gue pikir gue punya semua yang gue mau dan itu udah lebih dari cukup. Tapi sekarang, pernyataan gue sendiri menyadarkan gue, bener nggak sih apa yang gue miliki sekarang udah cukup? Kok sekarang gue justru merasa kosong? Kosong karena kealpaan cinta. Kosong karena nggak pernah jatuh cinta lagi. Gue pengen go back ke masa lalu. Ngerasain jatuh cinta. Gue kangen masa-masa jatuh cinta. Gue kangen masa-masa salah tingkah karena ketemu gebetan. Gue kangen curi-curi pandang ke gebatan setiap kali dia lewat. Gue kangen sama perasaan dag dig dug gue setiap kali dia lewat depan gue. Aaaarrrghh, gue kangen pengen jatuh cinta lagi.

Selasa, 09 September 2008

Thanks for showing me what sharing really is!

Kemaren gue pulang kantor dengan busway. Sejujurnya gue selalu menantikan moment-moment kesendirian gue di busway. Kalo yang lain males, gue justru enjoy banget naik busway. Tapi dicatat ya, hanya dalam kondisi busway yang sepi,hehe. Gue suka waktu gue duduk di barisan paling belakang, paling pojok deket jendela sambil dengerin si mecuje (ipod wannabe kesayangan gue). Kadang gue tidur dalam busway, kadang gue melamun, kadang gue berimajinasi, kadang gue ngejo (lho kok?Hehe, normal lah. It happened naturally, mau bagaimana lagi?).Ya bisa dibilang kalo berada di busway sepi itu masa-masa paling relax dalam hidup gue.

Kaya kemaren, gue kebetulan naik di busway yang sepi. Gue jalan dari kantor sekitar jam 5.30an. Dan busway bener-bener sepi. Mungkin pada masih dikantor kali ya, nunggu buka puasa. Jadilah busway sepi, paling-paling cuma ada sekitar 7 sampai 8 penumpang. Didalam busway, supir menyalakan radio, mungkin sebagai penanda kalo waktu buka puasa udah tiba.

Nggak lama kemudian, suara adzan pun terdengar. Waktunya buka puasa. Ini dia moment yang indah banget sepanjang sejarah gue naik busway. Sontak sang supir berhenti sebentar, mengeluarkan botol minumannya lalu minum seteguk air. Nggak lama kemudian dia keluarin lagi satu bungkusan plastik yang isinya aneka biskuit kecil. Bekal dari istri tercinta mungkin. Kebetulan gue memang duduk deket supir, dan sang supir sempat menawarkan biskuitnya ke gue. Gue cuma tersenyum, merasa hangat karena sikap bersahabat sang supir. Nggak mau ketinggalan, sang doorman pun maju ke dekat supir mengambil makanan yang sepertinya memang sudah disiapkan untuk berbuka puasa. Sang doorman pun ikut menawarkan makananan nya ke gue. Mungkin dia pikir gue nggak punya makanan untuk berbuka puasa padahal yang sebenarnya adalah gue emang nggak puasa,hehe. Sekali lagi gue menolak dengan halus. Busway masih berhenti. Dan gue liat di sekeliling gue. Semua yang ada disana sibuk mengeluarkan bekal buka puasa mereka. Mereka bahkan saling berbagi. Ada ibu-ibu bersarung yang keliatannya kucel banget, tapi dia rela membagi setengah jeruknya buat ibu-ibu lain yang ada disebelahnya. Sedangkan yang dibagi jeruk pun tak mau kalah, membalas ibu-ibu bersarung tadi dengan sebuah lemper. Beberapa ibu-ibu lain juga tidak ketinggalan saling menawarkan makanan mereka. Nah, diantara sekumpulan ibu-ibu itu, ada dua bapak-bapak yang dari tadi diem aja bengong. Kalo dari yang gue liat bapak-bapak itu sepertinya nggak punya bekal. Jadi kasian. Bapak-bapak biasanya kan memang lebih malas bawa bekal. Jadilah mereka nggak punya makanan apapun untuk berbuka. Disini gue liat lagi ibu-ibu tadi membagikan setengah bekalnya untuk si bapak-bapak itu. Suasana pun jadi lebih rame. Mereka bercakap-cakap akrab satu sama lain. Padahal sebelum buka puasa tadi, suasana di busway sepi dan sunyi banget. Tapi liat mereka sekarang. Mereka jadi akrab satu sama lain meskipun nggak saling kenal. Nggak ketinggalan, sang supir pun membuka jendelanya, membagikan setengah makanannya ke peminta-minta yang ada di jalan. Gila, gue ngerasa hangat banget disini. Gue tersenyum. Merasa damai. Gue bersyukur diantara orang-orang jakarta yang katanya lebih mementingkan diri sendiri dan egois, ada juga yang mau saling berbagi. Orang-orang di busway ini mungkin nggak seberuntung orang lain yang bisa merayakan buka puasa bersama keluarganya. Tapi mereka menunjukkan apa arti kekeluargaan yang sebenarnya buat gue. Belakangan gue sering nulis copy tentang indahnya berbagi bersama orang-orang terdekat anda. Copy-copy itu gue buat sehubungan sama moment puasa dan idul fitri yang bentar lagi tiba. Tapi jujur, copy itu cuma copy yang keluar karena kebiasaan. Gue nulis begitu karena emang itu yang ada dalam otak gue. Puasa atau Idul Fitri selalu dikaitkan sama berbagi, silaturahmi dan berbagai macam bla bla bla lainnya. Bisa dibilang tulisan itu keluar seadanya, tanpa ada keterkaitan emosi, karena gue nggak benar-benar sedang merasakan makna berbagi ketika gue nulis copy itu. Tapi sekarang, a simple thought di busway udah membuka pikiran gue. Mungkin cerita gue tadi kedengarannya biasa aja, nothing so special. Tapi entah kenapa, gue ngerasa peacuful banget didalam busway itu. Something yang udah ngajarin gue tentang makna berbagi itu sendiri. Keluar dari busway itu gue cuma bisa berucap dalam hati, 'Thanks for showing me what sharing really is.'

Senin, 08 September 2008

Dari pacar pertama sampai 'the one'

Sometimes gue bersyukur bisa masuk dan berkecimpung ke industri advertising ini, (kalo baru magang termasuk berkecimpung nggak ya? :-))

Kalo ditanya alasannya kenapa, gue masih belum bisa menjawab. Ada beberapa alasan sih, tapi mungkin masih terlalu dangkal untuk jadi alasan yang kuat.

Dari dulu gue pengen kerja di bidang yang gue suka, yang bener-bener jadi passion gue. Dan advertising adalah passion gue untuk saat ini. I'll do anything and I'll put my blood on this passion. Menurut gue selalu menyenangkan kalo kita kerja didunia yang kita suka. Kerja bukan karena uang, tapi karena memang ingin menyalurkan kesenangan kita.Sekali lagi bukan karena uang. Kalo gue ngomong kaya gini, kesannya duit nggak penting banget ya buat gue,hahaha. Padahal...Ya ilah bocah kaya gue seger banget kalo ngeliat duit. Gue penganut aliran, more money more fun. Tapi pointless kalo duit kita jadikan satu-satunya pondasi. Gue pernah ketemu orang yang kerjanya nine to five depan komputer doing something yang emang udah jadi kesehariannya. Sebut deh namanya Mira. Mira ini salah satu kakak kelas gue di SMP dulu yang sekarang kerja di sebuah bank. Mira sering curhat sama gue lewat YM, dia bosen sama kerjaannya. Nggak sabar nunggu jam 5 biar bisa cepet-cepet pulang. Dari yang gue liat sepertinya si Mira ini nggak enjoy banget sama kerjaannya. Padahal kalo diliat dari segi gaji, walah mualahhhhhhh.....Lumayan banget buat fresh graduate kaya si Mira ini. Gue sempet nanya kenapa nggak cabut aja kalo nggak suka? Mira cuma jawab gini, "Ya jen, kalo cabut mau kemana lagi gue? Kalo pun cari kerja ditempat lain ujung-ujungnya juga pasti kerjaan beginian lagi." Tuh kan, bener! Si Mira bukan keliatannya lagi nggak enjoy, tapi emang udah kenyataan. Tapi kayanya dia memang nggak punya pilihan lain lagi, she's totally stuck in her job. Gue belajar dari pengalaman Mira ini. Gue nggak mau hal yang sama terjadi sama gue.That's why gue pilih advertising. Advertising menawarkan sesuatu yang nggak pasti. Selalu ada naik atau turun. Ritmenya nggak jelas. Nggak stabil.

Ya mungkin nggak cuma di advertising aja yang begini. Mungkin ada beberapa kerjaan yang juga sama edannya dalam soal nggak pasti dan ritme kerja. Tapi kalo di advertising, gue ngerasa selalu di challenge. Hari ini gue mungkin ketemu satu kasus yang harus gue cari jalan keluarnya, tapi next time akan ada kasus baru lagi. Dan gue dituntut terus up to date untuk segala hal baru yang terjadi. Nggak mungkin kita bisa survive di dunia ini kalo kita penganut aliran old school. Yang ada kita mesti ngikutin perkembangan zaman, perkembangan konsumen, perkembangan trend, perkembangan dunia musik, dunia entertainment, dan segala macam perkembangan lainnnya. Yeah, anything!

Keep up to date bisa membuat seseorang merasa maju. Dan ketika gue merasa maju itulah gue merasa gue bener-bener hidup. That's what I love 'bout advertising.

Mungkin nggak semua orang setuju sama gue. Ada yang mungkin bilang, 'masih bau kencur aja nih anak, belum tau suka dukanya advertising! Ntar kalo udah tau juga pasti kabur pelan-pelan.' Ya mungkin aja, itu bisa bener bisa juga salah. Mungkin ini karena pengaruh lagi hot-hotnya passion gue di advertising. Tapi menurut gue bukan masalah juga kalo suatu saat gue tiba-tiba memutuskan untuk kabur dari dunia ini. Setiap orang berhak mencoba. Ibaratnya pacaran, nggak setiap orang harus langsung menikahi pacar pertamanya. Bisa aja kita gagal pacaran untuk pertama kalinya, tapi selalu akan ada kesempatan dengan hadirnya pacar kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, sampai kita memutuskan sendiri mana yang akan jadi the right one kita.

Minggu, 07 September 2008

Beauty Cursed


They said I'm beautiful
They said I'm the goddess
They said I'm the red rose
They said I'm the perfect one

But it's still empty
I've got my self alone in this room
No one's here
Where are the people?

All I want is to be with them
With people around me
Smile each other
And know the feeling to be the part of the human right

But...
They don't like me
They saw me differently
Because...

I'm beautiful
I'm the goddess
I'm the red rose
I'm the perfect one

Someone please tell me
Is that all my false?

My beauty my cursed
I'm hanging here alone

And now..
Now they helped me to understand
Beauty is pain
Beauty is cursed

Mirror mirror hanging on the wall
Please give me another reflection
Don't want to be the girl in front of me
She's all depressed
She's all stuck
She's all alone

I've just pretend my self as Grace Kelly.
Beginilah yang terjadi ketika seorang gue mencoba masuk kedalam alter ego nya grace kelly, hahahaha... Well, menjadi cantik mungkin tidak selalu semenyenangkan yang kita kira.

Sabtu, 06 September 2008

Ketika Si Bau Kencur Ikut Syuting


Selama ini gue pikir saat-saat syuting TVC itu selalu akan jadi the big day. Gue pikir di hari itulah, kita semua bakal jor-joran dan sibuk abis-abisan. Itu yang selalu ada dalam otak gue. Tapi kenyataannya bertolak belakang. Syuting justru jadi hari yang panjang banget terutama buat agency. Why? Karena waktu syuting, semuanya memang udah jadi urusan PH. Merekalah yang bertindak sebagai eksekutor, jadi semua yang terjadi dilapangan itu full jadi tugas mereka. Sedangkan agency adalah tim konseptor yang memikirkan konsep dan strategi yang pas buat TVC itu sendiri.
Agency itu justru sibuknya waktu create idea, crafting concept, pokoknya segala hal yang berhubungan dengan konsep. Disinilah tiap orang dalam tim dituntut bepikir keras untuk ide-ide atau gagasan yang bisa dipakai untuk syuting iklan nanti. Tapi kalo udah masuk saat syuting, tim agency bisa dbilang hanya sebagai pengawas. Kalo ada pertanyaan dari Director, atau kalo dibutuhkan masukan, disitulah agency berperan. Makanya bisa dibilang kalo saat-saat syuting itu justru adalah saat tersantai buat orang-orang agency. Selain nggak harus ke kantor, dan nggak usah mikirin konsep-kosep yang njelimet, saat syuting itulah orang agency full dimanjakan dengan treatment-treatment dari PH. Biasanya kalo udah syuting begini, selalu pesta makanan. Semua makanan disajikan di tenda yang disediakan untuk orang agency. Setidaknya itu pengalaman yang gue rasakan waktu ikutan syuting vario kemaren.
Well, meskipun saat syuting tim agency cuma berperan sebagai pengawas, tapi gue belajar banyak dari syuting kemaren. Terutama untuk hal-hal yang lebih bersifat teknis. Gue jadi lebih tau banyak dan buat gue mengetahui segala hal baru itu selalu menyenangkan lho,hehe... Untuk manusia awam kaya gue rasanya excited banget ngeliat proses syuting dan bagian yang paling menaik adalah gue bisa compared saat-saat pembuatannya dengan hasil yang kita liat di tv. Hihihihihihi, norak ya. Begini mungkin ciri-ciri anak magang bau kencur yang selalu pengen tauuuu aja.

Jumat, 05 September 2008

Copy Keren

MengirimkeNegeriMatahariTerbitSebelumTerbitMatahari

Waktu saya liat copy ini, yang ada dalam otak saya cuma 'wah, gila gokil amat nih yang buat.' Dari yang saya tangkap, maksud iklan ini masih sama dengan iklan-iklan Fed Ex terdahulu. Intinya sampai dimanapun kita berada, paket yang dikirimkan kepada kita pasti sampai. Bahkan sampai ke negeri matahari sekalipun dan tentunya dengan waktu yang sangat cepat, disini dianalogikan dengan sebelum terbit matahari.
Saya cuma bisa berimajinasi, coba kalo saya yang membuat copy ini. Wah gila, pasti bangga banget. Craftingnya rapi dan menurut saya ini termasuk copy kreatif yang membuat saya merasa harus sujud sembah kepada empunya sang pembuat copy.

Rabu, 03 September 2008

Komunikasi Cinta - Djito Kasilo

Gue langsung nggak bisa berhenti baca dari halaman pertama gue mulai. Menurut gue ini buku bagus yang harus dibaca oleh siapa aja yang tertarik sama komunikasi. Nggak tertarik juga gapapa kok, baca aja. Nggak ada ruginya,hehe.
Pikiran gue banyak terbuka sejak gue baca buku ini. Sama seperti judulnya, buku ini memang seputar komunikasi yang dilakukan dengan cinta. Bagaimana kita bisa membuat konsumen cinta pada brand kita dengan upaya cinta yang kita lakukan untuk mereka yang pada ujung-ujungnya membuat client pun tetep cinta pada kita. Kalo memang cinta bisa jadi cara yang baik untuk menyampaikan tujuan kita ke konsumen, then why not?
Semua perumpamaan-perumpamaan yang dipake ayah Djito terasa kena banget. Setidaknya begitu menurut gue. Dengan perumpamaan, semuanya memang jadi lebih gampang dicerna.
A smart way to learn, rite?
Cinta, cinta, memang cinta. Semua bisa dikomunikasi dengan cinta. Gue ngerasa damai bangeeettt baca buku ini. Lho kok bisa? Hahaha, saran gue baca deh buku ini cause yeah, love is all we need!

Selasa, 02 September 2008

Khira





Khira
Apa yang kau pikirkan?
Khira
Apa yang kau renungkan?
Semua tanyamu yang tak kau pahami

Khira
Dunia terkadang terasa
Tak cukup adil bagimu
Tak cukup baik bagimu
Kemanakah kau cari itu?

Saat tak ada jalan
Saat tak punya pilihan
Saat tak berdaya
Kemana kau berdiri?

Kau jalani semua
Oh Khira
Kau hibur dirimu sendiri
Walau getir trasa nyata
Tak pernah kau jatuh dalam lemah

Tersenyum slalu dalam pahitmu
Melagukan nyanyian kisahmu
Katamu semuanya indah
katamu semuanya baik
Tak perlu kau cari lagi
Indah hidup ini di matamu


Secercah penggalan hati Khira!

Menyegarkan mata dan nurani


Salah satu masterpiece kebanggaan saya,hehe.Ya, meskipun ini bukan foto yang bagus banget, tapi ada rasa puas ketika saya berhasil mengambil foto mas-mas bule ini. Ini bener-bener candid, 100 persen pure nggak direncanakan. Nah, disinilah letak kepuasan itu. Karena candid ekspresinya justru jadi lebih natural. Plus kebetulan mas-mas ini berwajah rupawan rupanya, menyegarkan mata dan nurani,hehe.