Jumat, 31 Oktober 2008

yiiipppiiiiieeeeee!

Finally,
I've got a crush on somebody..
Here today!
Yiipppieeeeeeeeeeee:-)

Selasa, 28 Oktober 2008

Hasil uji tarot saya


You are Strength


Courage, strength, fortitude. Power not arrested in the act of judgement, but passing on to further action, sometimes obstinacy.


This is a card of courage and energy. It represents both the Lion's hot, roaring energy, and the Maiden's steadfast will. The innocent Maiden is unafraid, undaunted, and indomitable. In some cards she opens the lion's mouth, in others she shuts it. Either way, she proves that inner strength is more powerful than raw physical strength. That forces can be controlled and used to score a victory is very close to the message of the Chariot, which might be why, in some decks, it is Justice that is card 8 instead of Strength. With strength you can control not only the situation, but yourself. It is a card about anger and impulse management, about creative answers, leadership and maintaining one's personal honor. It can also stand for a steadfast friend.


What Tarot Card are You?
Take the Test to Find Out.

Kamis, 23 Oktober 2008

Soundtrack of my life

Gue pecinta musik, dari dulu sampai sekarang dan gue rasa akan sampai selama-lamanya gue cinta musik. Menurut gue tiap kali adegan dalam hidup gue selalu diiringi musik, ibarat soundtrack dalam sebuah film. Gue pikir setiap orang pasti punya soundtrack dalam hidupnya, musik yang mengiringi dan menjadi saksi bisu perjalanan hidup kita. Dan gue bahagia bisa menemukan pelipur lara gue di dalam musik. Dibawah ini gue coba menguraikan musik-musik yang jadi soundtrack hidup gue.

Here Today by Fugu
Wah, ini lagu gue kalo lagi ketemu gebetan yang menarik di hati gue (masih tahap gebetan lo ya, bukan cinta). Seharian gue bakal senyum-senyum ga jelas. Berharap dia noticed gue ada. Setiap saat mikirin dia. Mulai dari bangun pagi, waktu mandi, waktu ngantri di busway, waktu makan, waktu tidur, bla bla bla..Otak gue seakan isinya cuma dia seorang. Bibir gue seharian akan terangkat terus ke atas membentuk sebuah senyum. Nah, pas moment seperti inilah, lagu ini pas banget jadi soundtrack hidup gue.
"I'm in love..I'm in love... here today..."

Relax by Mika
Lagu ini bener bener pas meng calm down gue kalo gue lagi panik. Waktu itu gue pernah panik banget lantaran gue tau gue bakal terlambat buat interview kerja. Janjinya jam 11, tapi udah jam 10.50 dan taksi gue masih stuck di Monas. Maceettt. Sedangkan interview gue ada di menara Thamrin. Wah, gue nggak mau sampai telat. Gue panik. Gue puter otak. Tadinya mau naik busway dengan pertimbangan lebih nggak macet.Tapi anjriitttt, jalur busway juga macet. Shit! Nah, kali ini gue nggak punya pilihan lain lagi, alias pake cara manual. Ya, lari! Gue lari boo dari patung kuda sampe ke Menara Thamrin. Wuih, keadaannya heboh banget. Gue serasa lari-lari di film action. Kalo di film-film mungkin adegan ini akan ditambah lagu Relax, take it easynya Mika. Wah, pas banget lagunya. Beatnya juga menegangkan persis mewakili apa yang gue rasakan waktu itu.

Do what you wanna do by Mocca
Nah, lagu ini asyik banget buat didengerin sembari berleha-leha santai. Sambil berlenje-lenje sesuka hati. Hehehehe, gue menamakannya the art of doing nothing.
"Do what you wanna do..Say what you wanna say, syalalalala!"

Fix you by Coldplay
Ada kalanya gue bener-bener merasa kelam. Saat gue bener-bener merasa capek, merasa nggak berdaya, merasa sedih, down, lagu ini bener-bener jadi curahan hati gue.
"When you try your best but you don't succeed.. When you get what you want but not what you need..When you feel so tired but you can't sleep..Lights will guide you home..And ignite your bones...And I will try to fix you" Sambil ngarep Chris martin bener ngomong gitu ke gue, (hahahaha...ngarep).

Mr Brightside by The Killer.
Nah, ini bener-bener soundtrack gue kalo gue lagi kacau. Dan rasanya gue pengen banget goyang. Wah, lagu ini akan gue setel sekenceng-kencengnya trus gue goyang segoyang-goyangnya. Sekali-kali gue niruin gaya rock star yang suka mengayunkan kepala ke depan ke belakang. Sesekali gue goyang ala goyangan ala inul yang hot dengan gaya ngebornya. Nggak jelas juga sih goyangannya mirip atau nggak, yang pasti goyaaaaaaaaannng terusss. Biar jelek, biar malu-maluin yang penting happy.

Drive by Incubus
Apapun yang terjadi besok, terjadilah. Wah, lagu ini paling pas kalo gue lagi tegang menantikan hari esok.
"Whatever tomorrow brings..I'll be there..With open arms and open mind.."

Quando by Michael Bubble.
Nah, kalo yang ini pure imaginasi gue. Ceritanya gue lagi kencan di satu tempat yang fancy sama gebetan idaman gue. Let say di salah satu roof top yang pemandangannya indah banget. Dengan suasana yang romantis, ditemani lampu temaram yang romantis, gue dan pasangan date gue ngobrol santai. Persis yang kaya di film-film itu lho (hehehe, tipikal cewe zaman sekarang banget ya maunya). Dan makin lama, kita makin merasa nyaman satu sama lain trus kita mulai dansa. Dansa oh dansa...Agak menjijikkan ya kalo yang ini,hehehe.

Stuck in Moment by U2
Gue pecinta U2, dari dulu sampe sekarang. Biar gue dikata oldies, ahh masa bodo lah. Lagu ni jadi soundtrack gue setiap saat. No more further reason.

Independent Woman by Independece Woman.
Ada kalanya jiwa emansipasi gue keluar dan gue merasa bangga banget jadi perempuan. Gue bisa melakukan apapun yang gue suka karena usaha gue sendiri. Yes, yes, yes, gue diberkahi kesempatan untuk menjadi independent di usia gue yang masih mungil, semungil biji jagung ini. Hohohoho, however I pay my own bill. Dan somehow gue pengen aja celebrate hasil jerih payah gue. Nah disaat itulah lagu ini sukses banget jadi soundtrack gue.

The Call by Regina Spektor.
Lagu ini sukses menduduki peringkat teratas untup top soundtrack of y life. Wah, lagi hobi banget denger lagu ini. Apalagi saat hujan, trus duduk di deretan bangku busway paling belakang. Wuih, heavenly peace.

Anyway itu cuma segelintir dari soundtrack-soundtrack yang mengisi hari-hari gue. Masih banyak lagu-lagu yang jadi soundtrack dalam hidup gue. Nggak akan ada abisnya kalo gue jabarin. that's my soundtracks..What's yours?

Black & White

When I born, I black
When I grow up, I black
When I go in the sun, I black
When I scared, I black
When I sick, I black
And when I die, I still black
And you white fellow…
When you born, you pink
When you grow up, you white
When you go in sun, you red
When you cold, you blue
When you scared, you yellow
When you sick, you green
And when you die, you gray
And you calling me colored?

This poem was nominated by UN as the best poem in 2006, written by African kid

Minggu, 19 Oktober 2008

Sampah boleh dibuang di kali!

Kemaren waktu ngantri busway, gue sempet liat satu adegan yang benar-benar nggak gue sangka. Ceritanya begini, waktu gue ngantri ada satu keluarga di belakang gue yang juga lagi ngantri. Ada ayah, ibu dan sepasang anak kecil. Sepasang anak itu kira-kira berumur sekitar 8 tahun untuk yang tertua dan 5 tahun untuk si kecil. Sembari ngantri dua anak itu memegang bungkusan Chiki Taro, yang tua pun menawarkan chiki tersebut pada sang adik. Setelah habis, anak tertua langsung membuang bungkusan Taro itu sembarangan di dalam halte. Wah, ini bad habbit pikir gue. Nggak heran Jakarta banyak sampah, wong anak kecil udah dibiasakan buang sampah jakarta sembarangan. Kalo gue perhatiin ini berakar, turun temurun, udah menjadi semacam kebiasaan bawah sadar setiap warga kota ini.

Nggak lama kemudian si ayah pun buru-buru melarang anaknya yang tadi hendak membuang sampah sembarangan.
"Ade jangan buang sampah disini. Nanti diomelin sama bapak itu lho (sambil menunjuk petugas busway)." Nah, ini dia. Akhirnya ada juga orang yang sadar akan bahaya buang sampah sembarangan. Dalam hati gue bersyukur. Tapi belum habis rasa syukur gue tiba-tiba bapak itu bilang begini, "Kalo mau buang sampah di kali aja. Jangan buang disini. Kalo di kali boleh." ujar si ayah tampak yakin dan bangga. Jegeerr, antara pengen ketawa karena lucu atau miris, gue cuma bisa tersenyum kecut. Setidaknya gue mulai paham, sekarang gue ngerti kenapa Jakarta nggak pernah bisa bersih kaya kota-kota di negara lain. Gue kaget denger penjelasan si ayah tadi. 'Kalo di kali boleh.', kalimat ini diucapkan dengan penuh keyakinan oleh si ayah. Seakan itu memang tertulis di buku yang pernah dibacanya. Gue nggak ngerti darimana si ayah bisa punya pemahaman seperti itu. Cuma menurut gue ini meprihatinkan.

Jangankan berharap mereka ngerti soal Global Warming yang belakangan heboh wara-wiri di semua media. Untuk pengetahuan seputar membuang sampah aja, mereka masih belum tau. Apa yang mungkin bisa dilakukan?

Gue bisa mengaitkannnya dengan analogi, pohon yang semakin besar batangnya, akan semakin besar akarnya dan akan semakin sulit untuk ditebang. Sama halnya dengan kebiasaan,. pemikiran dan kepercayaan yang sudah lama mendarah daging dalam diri seseorang juga akan sulit diubah. Entah kenapa gue yakin, si ayah tadi meskipun diberitahu bahwa membuang sampah di kali itu tidak baik, nantinya pasti si ayah akan tetap bersikeras melawan dan terus menganggap bahwa membuang sampah di kali adalah sesuati yang wajar, sewajar membuang sampah di tempat sampah. Mungkin kali sudah menjadi semacam tong sampah mereka. .

Well, ini nggak bisa disalahkan. Wong, ini sudah berakar dan mendarah daging, mau diapain tetep aja susah. At the end, untuk siapapun yang menjadi duta lingkungan terutama dalam hal pencegahan global warming, gue cuma bisa bilang "Good luck. Tough job, bro!"

I wish I know what I really want!

I'm not looking for someone to talk to
I've got my friends, I'm more than ok
I've got more than a girl could wish for
I live my dreams but its not all they say
Still I believe I'm missing something real
I need someone who really sees me

Loves for a lifetime not for a moment
So how could I throw it away
Yeah I'm only human
And nights grow colder
With no-one to love me that way
Yeah I need someone who really sees me


The Corrs - All the love in the world.

Tadi pagi begitu gue denger lagu ini di radio gue langsung tertegun. Lirik awalnya bener-bener mewakili apa yang gue rasain sekarang. Lots of girls around me still dream about their dream boy..What about me? Gue juga begitu. Tapi dream boy yang bagaimana? Gue bingung jawabnya. Mau gue banyak. Harapan gue banyak. Impian gue banyak. Terlalu banyak sampai semua itu jadi absurd di mata gue. Terlalu banyak sampai gue terjatuh dengan semua mimpi-mimpi itu. Kenapa gue nggak bisa menerima ketidaksempurnaan? Why I always seek for a perfection? Dari mana asalnya kesempurnaan? Apa ada yang bener-bener sempurna? Lagipula siapa gue? Kenapa gue yakin pantas mendapatkan yang sempurna?

Mereka bilang gue pemilih. For some people mereka cenderung nganggap gue dingin, nggak punya perasaan, nggak punya cinta. Am I? Gue nggak tau pasti. Sekali lagi gue tertegun. Apa bener gue sedingin itu? Gue juga nggak pengen begitu. Trus apa yang gue pengen? Ahh, gue juga ga tau apa mau gue.. I wish I know what I really want.

Geez, kenapa mendadak gue jadi melodrama begini ya? Pertanyaan demi pertanyaan datang terus tanpa jawaban yang pasti. Tapi yang pasti gue juga butuh cinta, just like others!

Minggu, 12 Oktober 2008

I am Sam

Ini film bagus yang gue rekomendasikan kepada siapapun pecinta film. Berawal dari kekurangkerjaan gue selama liburan, mulailah gue mengacak lemari DVD koleksi kakak gue sampai gue menemukan DVD ini. Awalnya gue kurang tertarik, mengingat covernya yang nggak terlalu stunning menurut gue. Tapi mengingat jajarannya castnya lumayan, Sean Penn, Michelle Pfeiffer, dan little Dakota Fanning, akhirnya gue memutuskan untuk nonton film ini. Konon kabarnya ini adalah film pertamanya Dakota Fanning. Wah, kalo iya ga heran sih aktris kecil ini begitu banyak diperbincangkan orang. Dakota Fanning tampil memukau, gue nggak habis pikir bagaimana mungkin aktris sekecil ini bisa berakting sehebat itu. Terlebih lagi Sean Penn, (hehehehe, actually ini reason utamanya, gue suka banget sama Sean Penn), aktingnya bagus banget. Ini kisah tentang cinta seorang ayah pada anaknya.

Disini diceritakan Sam (Sean Penn) adalah seorang pria yang memiliki keterbatasan pada otaknya, dia hanya mempunyai kapasitas memori otak seorang anak 7 tahun. Dengan segala keterbatasannya, dia berhasil mengasuh anaknya, Lucy (Dakota Fanning) yang langsung ditinggal ibunya begitu keluar dari rumah sakit pasca melahirkan. Nah, dari sinilah kisahnya dimulai. Ada begitu banyak keharuan di film ini. Semuanya berpulang pada cinta. Love is all you need. Dengan segala keterbatasannya Sam menyalurkan sepenuh cinta pada Lucy, dan Lucy pun begitu mencintai ayahnya. Masalah datang karena hukum di Amerika melarang Lucy untuk diasuh oleh ayahnya mengingat keterbatasan fisik yang dimiliki oleh Sam. Oleh karena itu diadakan semacam pengadilan untuk memutuskan nasib Lucy, apakah gadis kecil ini akan tetap diasuh ayahnya atau diadopsi keluarga lain? Sam yang kesehariannya bekerja sebagai pegawai Starbucks lalu berusaha meminta bantuan Rita (Michelle Pfeiffer), seorang pengacara muda yang sukses dan sibuk. Akhirnya Rita pun berhasil dibujuk. Sidang demi sidang dilewati untuk memperjuangkan Lucy.

Gue nggak akan menceritakan bagaimana ending film ini karena gue recommend banget film ini untuk ditonton. 2 jam lebih gue nonton film ini and I just cant stop my tears. Akting Sean Penn yang berperan sebagai orang dengan keterbatasan otak bener-bener stunning. Dia menghidupkan karakter itu dan membuat kita begitu tersentuh. Film ini sekaligus mengajarkan cinta. Cinta, cinta, ya gue tahu hampir semua film menyuarakan hal yang sama. Tapi ini berbeda. Gue belajar disini bahwa cinta sekalipun tidak mengenal batas, nggak ada yang bisa menghalangi besarnya cinta seorang ayah kepada anaknya yang meskipun terpisah mereka tetap berada dalam ikatan yang kuat. Gue selalu menganggap sebuah film itu bagus ketika gue merasa gue bisa ikut berkomunikasi dengan film itu. Film ini membuat gue berkomunikasi sepanjang filmnya, gue belajar dan pikiran gue terbuka. Musik di film ini pun memegang kunci yang membuat film ini begitu menyentuh karena begitu menghidupkan suasana keharuan disana. Dengan remake lagu-lagu The Beatles, film ini jadi tambah indah.

Really guys, you should watch this movie. Damn, this is the best movie I've ever seen!