Jumat, 17 Juli 2009
strength, courage and wisdom
I have a soul inside my courage
And I have mind behind the wisdom
Strength, courage, and wisdom
It's been inside of me all along,
Kamis, 14 Mei 2009
dan si bau kencur itu pun masih bau kencur
Hormat saya,
bau kencur
consumer insight and what woman wants
Saya pernah menonton sebuah film berjudul “What woman want’? Ceritanya berkisar seputar romantika dalam dunia periklanan yang diperankan oleh Mel Gibson. Mel Gibson berperan sebagai Nick Marshall, account executive sebuah advertising agency. Nick adalah tipe pria yang digemari wanita, tampan, gagah, punya karier bagus, dan masih bujangan. Suatu hari, ketika ia sedang di kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, Nick terpeleset, jatuh ke bathtup yang berisi air hingga akhirnya ia pun kesetrum dan jatuh pingsan. Ajaibnya, saat siuman keesokan harinya, Nick bisa mendengar apapun yang ada dalam pikiran wanita. Nick bisa mendengar pikiran setiap wanita yang dijumpainya, kadang malah ada dua suara yang bisa didengarnya dari satu wanita yang sama. Satu suara yang ada dalam pikiran wanita tersebut dan satu lagi adalah suara lisan yang keluar dari mulut wanita tersebut. Nick yang bingung pun lalu menemui seorang terapis. Apa yang disarankan oleh terapis ini justru diluar dugaan.
“If men are from mars and woman are from venus, and you can speak venusian, the world can be yours.” Begitu kata terapis tadi. Mengikuti saran terapis ini, Nick lalu menggunakan “bakat” dadakannya ini untuk kepentingan pribadinya mulai dari urusan pitching kantor sampai untuk kepentingannya memenangkan hati seorang wanita rekan kerjanya.
Dari film ini, ada satu hal yang bisa kita petik. Film ini bisa menjadi inspirasi untuk setiap insan periklanan. Alangkah hebatnya bila setiap pembuat iklan, bisa seperti Nick Marshal tadi yang bisa memahami orang lain (dalam hal ini tentunya audience) secara luar dalam. Bukan hanya apa yang diungkapkan lisan, melainkan apa yang juga tidak diungkapkan. Consumer insight seperti inilah yang diperlukan.
Terkadang customer insight tidak hanya bisa didapat melalui FGD (Focus Group Discussion) ataupun dengan melakukan survey kuantitatif semata. Kadangkala orang enggan memberikan jawaban-jawaban jujur dalam FGD khususnya bila pertanyaan-pertanyaan tersebut menyangkut hal yang sangat sensitive bagi mereka. Orang bila sedang ditanyai secara langsung, terkadang hanya bersedia menunjukkan sisi baiknya, dan terkadang mereka malu mengungkapkan isi hati mereka yang terdalam.
Menurut saya penting sekali bagi para creator iklan untuk bisa memahami audiencenya luar dalam, termasuk mengungkap apa saja yang tersembunyi di balik permukaan.
Memang untuk tahu seluk beluk tentang audience sampai ke bagian yang paling tersembunyi tidak bisa didapat seperti pengalaman Nick Marshall tadi yang mendadak sudah bisa membaca isi pikiran wanita dalam waktu satu malam. Perlu ada usaha, niat, dan ketekunan untuk bisa memahami audience. Tapi saya berani bertaruh, akan ada rasa puas ketika kita mampu menguak seluk beluk audience. Consumer insight seperti ini akan membuat kita menciptakan sebuah iklan atau campaign yang pada akhirnya akan lebih dekat dengan audience.
Seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, kita ibaratkan audience ini layaknya sahabat atau orang terdekat kita. Sampai pada akhirnya kita ingin memberikan sebuah kejutan untuk sahabat kita tersebut. Tentunya dalam hal ini, kita akan mencari tahu apa yang disukai dan tidak oleh sahabat kita. Kita akan mencari tahu apa yang diinginkanya. Kadang kala kita tidak bisa langsung bertanya kepada sang sahabat kejutan seperti apa yang sedang diinginkannya? Tapi kita bisa mencari tahu lewat pembicaraan-pembicaraan kita bersama sang sahabat, lewat gerak-geriknya, tingkah lakunya, hobinya atau apapun yang bisa menuntun kita pada sebuah jawaban untuknya. Karena pastinya kita akan selalu memberikan yang terbaik bagi sahabat kita tersebut, bukan begitu?
Lennon and Bono

“You may say I’m a dreamer. But I’m not the only one. I hope someday you’ll join us. And the world will be as one.”
Itulah penggalan lirik dari salah satu lagu paling terkenal sepanjang sejarah, Imagine, karya John Lennon. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan seorang teman di messenger, saya jadi tahu sedikit banyak tentang The Beatles. John Lennon, sang pentolan The Beatles ini dikenal dengan sebagai tokoh eksentrik yang punya daya imaginasi tinggi. Bersama-sama rekannya di The Beatles – Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Star, Lennon bisa dibilang telah melakukan revolusi dalam bidang social, budaya, dan politik pada era 1960-an. Apa yang mereka mulai menjadi tonggak inspirasi bagi para generasi muda pada eranya. Bahkan kalau menurut saya, jejak mereka masih terasa sampai saat ini. Lennon dikenal sebagai sosok yang controversial. Ketika sedang merayakan bulan madunya dengan Yoko Ono, Lennon menggelar wawancara dengan para wartawan diatas kasur disebuah hotel. Tujuannya adalah untuk memprotes perang
Selain Lennon, ada pula Bono. Frontman U2 asal Irlandia yang nama aslinya Paul David Hewson ini memang bukan Cuma terkenal sebagai penyanyi, tapi juga sudah lama terkenal sebagai tokoh humanis. Bono banyak menulis lagu yang memprotes situasi perang seperti yang pernah dialaminya dikampung halamannya dulu. Bono juga terkenal dalam gerakan Coexist yang menyampaikan pesan perdamaian di antara 3 agama besar, Islam, Kristen, dan Yahudi. Sebagai penggagas dari proyel RED, proyek penggalangan dana untuk membantu penanggulangan masalah HIV / AIDS di Afrika, Bono seakan meneguhkan komitmennya terhadap isu-isu kemanusiaan yang sudah lama menjadi kepeduliannya. Karena itu, ia pun sempat beberapa kali dinominasikan sebagai penerima Nobel Perdamaian pada tahun 2003, 2005 dan 2006. Ia juga terpilih sebagai “Person of the Year” tahun 2004 versi majalah Time.
Dua contoh orang ini hanyalah contoh diantara beberapa segelintir orang yang telah memberikan pengaruh dan dampak besar bagi dunia. Keduanya bukanlah aktor politik yang berkuasa, tapi pengaruh keduanya tak kalah bila disejajarkan dengan para aktor-aktor politik tersebut.
Orang-orang seperti Lennon dan Bono telah menciptakan brandnya sendiri. Orang-orang tidak lagi memandang mereka sebatas musisi, tetapi kedua orang ini juga telah dianggap sebagai orang-orang yang memberiklan pengaruh dan sumbangsih besar terhadap dunia, baik dalam bidang social, budaya dan politik. Kedua orang itu kemudian menjadi begitu disegani oleh orang-orang dan pada akhirnya mempunyai pengikutnya tersendiri. Mereka memberikan nyawa lain ke dalam diri mereka, sebagai tokoh humanis berpengaruh, bukan lagi hanya sebagai seorang musisi semata. Mereka mempunyai citra positif yang membuat mereka mempunyai banyak pengikut.
Saya membayangkan apabila ini dikaitkan dengan brand sebuah produk. Akan sangat mungkin sekali, sebuah brand yang memiliki citra yang positif akan mempunyai pengikut yang banyak seperti Lennon dan Bono. Bila sebuah brand dikelola dan diperhatikan dengan baik, bukan tidak mungkin brand tersebut mampu menciptakan pengaruh yang besar. Sayangnya bagi sebagian besar, produsen di
Hm, no further comment!
Kamis, 05 Maret 2009
Skripsi, masa depan dan segala tetek bengeknya
Tapi saya tidak bohong soal tugas-tugas saya tadi. Semester kemaren, saya memang sedang sibuk-sibuknya dihadapkan pada tugas-tugas kampus, mulai dari magang sampai pada mengadakan seminar yang menjadi salah satu subject wajib mahasiswa semester 7 London School. Sekarang disaat saya sudah bisa bernapas dengan lebih lega, sebuah tugas baru sudah terpampang depan mata. Alamaaak, skripsi! Walaupun cuma satu, tapi harus saya akui tugas yang satu ini paling menyita konsentrasi dan perhatian.
Rasanya baru kemarin saya berkicau soal masa depan saya, mau jadi apa saya nanti setelah lulus. Yang saya impikan saat itu adalah menjadi seorang copywriter sukses di sebuah agency ternama. Memenangkan awards di festival-festival periklanan baik di ajang Pinathiska, Citra Pariwara maupun sampai ajang sekaliber Adfest atau Cannes sekalipun. Menduduki posisi puncak di tempat saya bekerja, sampai pada akhirnya saya boleh menjadi orang penting didunia periklanan. Hahahaha, teman-teman saya pasti mengakak kalo mendengar yang satu ini.
Well, impian tetaplah impian, dan saat itu menurut saya sah-sah saja orang memiliki impian bahkan untuk hal yang dianggap paling tidak mungkin sekalipun. Rasanya pengaruh buku The Secret yang saat itu sedang heboh-hebohnya sangat besar pada saya. Saya terlanjur tenggelam dalam paham dan persepsi law of attraction yang mengatakan kita bisa meraih apapun yang selalu kita impikan asalkan kita terus memikirkan impian itu. Sebagai contoh Katie Holmes semasa kecil pernah bermimpi ingin menjadi istri seorang Tom Cruise, satu mimpi yang semasa dulu dicibir oleh teman-temannya. But look at her now! She did it, sekarang Katie resmi menjadi Mr. Cruise. Siapa yang menyangka? Dalam film The Pursuit Happiness pun, Will Smith berhasil meraih apa yang selama ini diimpikannya walaupun tadinya ia hanya seorang tuna wisma. Tapi pada akhirnya, Will Smith berhasil menjadi pengusaha sukses dengan asset bernilai jutaan dollar.
Sekarang dengan waktu yang semakin dekat menjelang kelulusan, saya semakin getir memikirkan kembali semua impian saya. Saya cuma bisa tertawa geli memikirkan semua impian-impian indah itu. Ya Tuhan yang maha dari segala maha, kenapa dulu saya bisa begitu yakin pada impian saya. Kok bisa-bisanya ya saya begitu percaya diri saya mampu meraih semua itu? Saya masih tidak habis pikir.
Disaat-saat yang dinamakan krisis global ini, boro-boro menjadi orang penting di dunia periklanan yang memenangkan award, untuk dapat pekerjaan saja sudah merupakan suatu keberuntungan. Saya berada dalam ketakutan tersendiri. Ketakutan yang mungkin juga merupakan ketakutan khas para fresh graduate lainnya. Setelah usaha dan perjuangan meraih gelar bachelor, what would I be then? Saya takut semua impian saya itu hanya akan menjadi impian belaka. Katie Holmes dan Will Smith boleh saja meraih semua impian mereka karena selain usaha dan kerja keras mereka, juga ada factor lain yang turut andil dalam pencapaian impian mereka. Apalagi kalo bukan keberuntungan. Sekarang pertanyaannya akan lebih mudah buat saya. Akankah saya seberuntung mereka? Untuk yang satu ini, saya benar-benar berdoa. Kalo sampai semua itu tidak terwujud paling-paling hal pertama yang bisa saya lakukan hanyalah gigit jari. Diikuti berbagai protocol khas manusia gagal peraih impian, mulai dari mengetok-ngetokkan kepala di tembok, menyendiri di pulau terpencil dengan alasan ingin menenangkan diri, padahal yang sebenarnya adalaha justru kabur dari cibiran orang dan beberapa hal lain yang biasa dilakukan oleh mereka yang sedang dilanda depresi.
But anyway, buat apa memikirkan hal yang selanjutnya akan terjadi kalau ada hal yang lebih mendesak saat ini untuk dipikrkan. Sebelum berkicau soal masa depan, lebih baik saya selesaikan dulu tugas maha penting yang sudah terpampang di depan mata, skripsi. Percuma saya ngalor ngidul soal mau jadi apa saya nanti, kalo bahkan skripsi pun nanti saya tidak lulus. So skripsi, I’m comiiing and now you have become my priority!
(sigh, ditulis ketika penulis sedang buntu-buntunya menyelesaikan Bab I tugas skripsinya)