Kamis, 14 Mei 2009

dan si bau kencur itu pun masih bau kencur

Saya yang bertanda tangan di bawah ini, bersumpah akan tetap menjadi manusia bau kencur seumur hidup. Demi memuaskan rasa haus akan pengetahuan dan ilmu yang tak akan pernah ada habisnya, si bau kencur akan tetap menjadi si bau kencur. Si bau kencur tidak akan lengah belajar. Si bau kencur akan terus menuntut ilmu dan pengalaman demi kesiapannya dalam meniti masa depan kelak. Si bau kencur tidak akan pernah menyerah sekalipun. Doakan si bau kencur ya!

Hormat saya,


bau kencur

consumer insight and what woman wants


Saya pernah menonton sebuah film berjudul “What woman want’? Ceritanya berkisar seputar romantika dalam dunia periklanan yang diperankan oleh Mel Gibson. Mel Gibson berperan sebagai Nick Marshall, account executive sebuah advertising agency. Nick adalah tipe pria yang digemari wanita, tampan, gagah, punya karier bagus, dan masih bujangan. Suatu hari, ketika ia sedang di kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, Nick terpeleset, jatuh ke bathtup yang berisi air hingga akhirnya ia pun kesetrum dan jatuh pingsan. Ajaibnya, saat siuman keesokan harinya, Nick bisa mendengar apapun yang ada dalam pikiran wanita. Nick bisa mendengar pikiran setiap wanita yang dijumpainya, kadang malah ada dua suara yang bisa didengarnya dari satu wanita yang sama. Satu suara yang ada dalam pikiran wanita tersebut dan satu lagi adalah suara lisan yang keluar dari mulut wanita tersebut. Nick yang bingung pun lalu menemui seorang terapis. Apa yang disarankan oleh terapis ini justru diluar dugaan.

“If men are from mars and woman are from venus, and you can speak venusian, the world can be yours.” Begitu kata terapis tadi. Mengikuti saran terapis ini, Nick lalu menggunakan “bakat” dadakannya ini untuk kepentingan pribadinya mulai dari urusan pitching kantor sampai untuk kepentingannya memenangkan hati seorang wanita rekan kerjanya.

Dari film ini, ada satu hal yang bisa kita petik. Film ini bisa menjadi inspirasi untuk setiap insan periklanan. Alangkah hebatnya bila setiap pembuat iklan, bisa seperti Nick Marshal tadi yang bisa memahami orang lain (dalam hal ini tentunya audience) secara luar dalam. Bukan hanya apa yang diungkapkan lisan, melainkan apa yang juga tidak diungkapkan. Consumer insight seperti inilah yang diperlukan.

Terkadang customer insight tidak hanya bisa didapat melalui FGD (Focus Group Discussion) ataupun dengan melakukan survey kuantitatif semata. Kadangkala orang enggan memberikan jawaban-jawaban jujur dalam FGD khususnya bila pertanyaan-pertanyaan tersebut menyangkut hal yang sangat sensitive bagi mereka. Orang bila sedang ditanyai secara langsung, terkadang hanya bersedia menunjukkan sisi baiknya, dan terkadang mereka malu mengungkapkan isi hati mereka yang terdalam.

Menurut saya penting sekali bagi para creator iklan untuk bisa memahami audiencenya luar dalam, termasuk mengungkap apa saja yang tersembunyi di balik permukaan.

Memang untuk tahu seluk beluk tentang audience sampai ke bagian yang paling tersembunyi tidak bisa didapat seperti pengalaman Nick Marshall tadi yang mendadak sudah bisa membaca isi pikiran wanita dalam waktu satu malam. Perlu ada usaha, niat, dan ketekunan untuk bisa memahami audience. Tapi saya berani bertaruh, akan ada rasa puas ketika kita mampu menguak seluk beluk audience. Consumer insight seperti ini akan membuat kita menciptakan sebuah iklan atau campaign yang pada akhirnya akan lebih dekat dengan audience.

Seperti yang saya tulis dalam postingan sebelumnya, kita ibaratkan audience ini layaknya sahabat atau orang terdekat kita. Sampai pada akhirnya kita ingin memberikan sebuah kejutan untuk sahabat kita tersebut. Tentunya dalam hal ini, kita akan mencari tahu apa yang disukai dan tidak oleh sahabat kita. Kita akan mencari tahu apa yang diinginkanya. Kadang kala kita tidak bisa langsung bertanya kepada sang sahabat kejutan seperti apa yang sedang diinginkannya? Tapi kita bisa mencari tahu lewat pembicaraan-pembicaraan kita bersama sang sahabat, lewat gerak-geriknya, tingkah lakunya, hobinya atau apapun yang bisa menuntun kita pada sebuah jawaban untuknya. Karena pastinya kita akan selalu memberikan yang terbaik bagi sahabat kita tersebut, bukan begitu?

Lennon and Bono




“You may say I’m a dreamer. But I’m not the only one. I hope someday you’ll join us. And the world will be as one.”

Itulah penggalan lirik dari salah satu lagu paling terkenal sepanjang sejarah, Imagine, karya John Lennon. Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan seorang teman di messenger, saya jadi tahu sedikit banyak tentang The Beatles. John Lennon, sang pentolan The Beatles ini dikenal dengan sebagai tokoh eksentrik yang punya daya imaginasi tinggi. Bersama-sama rekannya di The Beatles – Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Star, Lennon bisa dibilang telah melakukan revolusi dalam bidang social, budaya, dan politik pada era 1960-an. Apa yang mereka mulai menjadi tonggak inspirasi bagi para generasi muda pada eranya. Bahkan kalau menurut saya, jejak mereka masih terasa sampai saat ini. Lennon dikenal sebagai sosok yang controversial. Ketika sedang merayakan bulan madunya dengan Yoko Ono, Lennon menggelar wawancara dengan para wartawan diatas kasur disebuah hotel. Tujuannya adalah untuk memprotes perang Vietnam yang sedang berlangsung saat itu. Aksi ini kemudian dikenal sebagai “Bed in Peace.” Lagu Lennon yang berjudul Give Peace a Chance pun sempat menjadi lagu popular yang dinyanyikan oleh lebih dari setengah juta demonstran di Washington DC untuk memprotes Perang Vietnam. Banyak orang merasa terinspirasi dengan pemikiran Lennon. Tak heran ketika Lennon meninggal karea ditembak, jutaan orang diseluruh dunia menghentikan kegiatannya sejenak selama 10 menit untuk mengenangnya. Walau telah meninggal, lagu-lagu Lennon tetaplah abadi. Ratusan lagu The Beatles masih tetap dinikmati oleh generasi sekarang. Lennon menjadi sosok dan musisi yang begitu disegani oleh masyarakat dunia.

Selain Lennon, ada pula Bono. Frontman U2 asal Irlandia yang nama aslinya Paul David Hewson ini memang bukan Cuma terkenal sebagai penyanyi, tapi juga sudah lama terkenal sebagai tokoh humanis. Bono banyak menulis lagu yang memprotes situasi perang seperti yang pernah dialaminya dikampung halamannya dulu. Bono juga terkenal dalam gerakan Coexist yang menyampaikan pesan perdamaian di antara 3 agama besar, Islam, Kristen, dan Yahudi. Sebagai penggagas dari proyel RED, proyek penggalangan dana untuk membantu penanggulangan masalah HIV / AIDS di Afrika, Bono seakan meneguhkan komitmennya terhadap isu-isu kemanusiaan yang sudah lama menjadi kepeduliannya. Karena itu, ia pun sempat beberapa kali dinominasikan sebagai penerima Nobel Perdamaian pada tahun 2003, 2005 dan 2006. Ia juga terpilih sebagai “Person of the Year” tahun 2004 versi majalah Time.

Dua contoh orang ini hanyalah contoh diantara beberapa segelintir orang yang telah memberikan pengaruh dan dampak besar bagi dunia. Keduanya bukanlah aktor politik yang berkuasa, tapi pengaruh keduanya tak kalah bila disejajarkan dengan para aktor-aktor politik tersebut.

Orang-orang seperti Lennon dan Bono telah menciptakan brandnya sendiri. Orang-orang tidak lagi memandang mereka sebatas musisi, tetapi kedua orang ini juga telah dianggap sebagai orang-orang yang memberiklan pengaruh dan sumbangsih besar terhadap dunia, baik dalam bidang social, budaya dan politik. Kedua orang itu kemudian menjadi begitu disegani oleh orang-orang dan pada akhirnya mempunyai pengikutnya tersendiri. Mereka memberikan nyawa lain ke dalam diri mereka, sebagai tokoh humanis berpengaruh, bukan lagi hanya sebagai seorang musisi semata. Mereka mempunyai citra positif yang membuat mereka mempunyai banyak pengikut.

Saya membayangkan apabila ini dikaitkan dengan brand sebuah produk. Akan sangat mungkin sekali, sebuah brand yang memiliki citra yang positif akan mempunyai pengikut yang banyak seperti Lennon dan Bono. Bila sebuah brand dikelola dan diperhatikan dengan baik, bukan tidak mungkin brand tersebut mampu menciptakan pengaruh yang besar. Sayangnya bagi sebagian besar, produsen di Indonesia, kesadaran akan pentingnya citra sebuah brand belum menjadi issue utama yang diperhatikan. Masing-masing produsen nampaknya masih sibuk dengan goal jangka pendek mereka yakni untuk menjual sebanyak-banyaknya. Padahal dengan memantain citra brand yang baik, para produsen tersebut bisa memetik hasil positif untuk jangka panjang. Bahkan terkadang image brand yang kuat ada kalanya tidak perlu lagi dimantain. Saya ambil saja contoh paling mudah yang mungkin juga sudah sangat sering dipakai dalam contoh sehari-hari, yaitu Aqua. Sebagai produsen air mineral, Aqua telah menciptakan brandnya sedemikian kuat, sehingga ketika konsumen diminta menyebutkan merek air mineral, maka merek yang keluar selalu Aqua. Aqua menjadi nama yang digeneralisasikan oleh para konsumen tersebut sebagai nama air mineral. Ini benar-benar hebat, bukan? Image brand yang sedemikian kuat ini saya yakin akan bertahan lama. Setidaknya walaupun nantinya pihak produsen Aqua memutuskan untuk tidak lagi mengadakan kegiatan promosi dengan sangat gencar, saya yakin Aqua masih akan ada dalam benak konsumen. Lihat saja Lennon. Meskipun telah tiada, tapi image Lennon sedemikian kuat dan akan terus ada dalam benak pengikutnya walau kini mulai muncul banyak musisi-musisi lain. Tapi Lennon menempati ruang khusus di hati penggemarnya dan bukan mustahil bila ruang tersebut tidak akan pernah bisa digantikan. Bayangkan bila itu terjadi pada brand kita?

Hm, no further comment!