Kemaren waktu ngantri busway, gue sempet liat satu adegan yang benar-benar nggak gue sangka. Ceritanya begini, waktu gue ngantri ada satu keluarga di belakang gue yang juga lagi ngantri. Ada ayah, ibu dan sepasang anak kecil. Sepasang anak itu kira-kira berumur sekitar 8 tahun untuk yang tertua dan 5 tahun untuk si kecil. Sembari ngantri dua anak itu memegang bungkusan Chiki Taro, yang tua pun menawarkan chiki tersebut pada sang adik. Setelah habis, anak tertua langsung membuang bungkusan Taro itu sembarangan di dalam halte. Wah, ini bad habbit pikir gue. Nggak heran Jakarta banyak sampah, wong anak kecil udah dibiasakan buang sampah jakarta sembarangan. Kalo gue perhatiin ini berakar, turun temurun, udah menjadi semacam kebiasaan bawah sadar setiap warga kota ini.
Nggak lama kemudian si ayah pun buru-buru melarang anaknya yang tadi hendak membuang sampah sembarangan.
"Ade jangan buang sampah disini. Nanti diomelin sama bapak itu lho (sambil menunjuk petugas busway)." Nah, ini dia. Akhirnya ada juga orang yang sadar akan bahaya buang sampah sembarangan. Dalam hati gue bersyukur. Tapi belum habis rasa syukur gue tiba-tiba bapak itu bilang begini, "Kalo mau buang sampah di kali aja. Jangan buang disini. Kalo di kali boleh." ujar si ayah tampak yakin dan bangga. Jegeerr, antara pengen ketawa karena lucu atau miris, gue cuma bisa tersenyum kecut. Setidaknya gue mulai paham, sekarang gue ngerti kenapa Jakarta nggak pernah bisa bersih kaya kota-kota di negara lain. Gue kaget denger penjelasan si ayah tadi. 'Kalo di kali boleh.', kalimat ini diucapkan dengan penuh keyakinan oleh si ayah. Seakan itu memang tertulis di buku yang pernah dibacanya. Gue nggak ngerti darimana si ayah bisa punya pemahaman seperti itu. Cuma menurut gue ini meprihatinkan.
Jangankan berharap mereka ngerti soal Global Warming yang belakangan heboh wara-wiri di semua media. Untuk pengetahuan seputar membuang sampah aja, mereka masih belum tau. Apa yang mungkin bisa dilakukan?
Gue bisa mengaitkannnya dengan analogi, pohon yang semakin besar batangnya, akan semakin besar akarnya dan akan semakin sulit untuk ditebang. Sama halnya dengan kebiasaan,. pemikiran dan kepercayaan yang sudah lama mendarah daging dalam diri seseorang juga akan sulit diubah. Entah kenapa gue yakin, si ayah tadi meskipun diberitahu bahwa membuang sampah di kali itu tidak baik, nantinya pasti si ayah akan tetap bersikeras melawan dan terus menganggap bahwa membuang sampah di kali adalah sesuati yang wajar, sewajar membuang sampah di tempat sampah. Mungkin kali sudah menjadi semacam tong sampah mereka. .
Well, ini nggak bisa disalahkan. Wong, ini sudah berakar dan mendarah daging, mau diapain tetep aja susah. At the end, untuk siapapun yang menjadi duta lingkungan terutama dalam hal pencegahan global warming, gue cuma bisa bilang "Good luck. Tough job, bro!"
Nggak lama kemudian si ayah pun buru-buru melarang anaknya yang tadi hendak membuang sampah sembarangan.
"Ade jangan buang sampah disini. Nanti diomelin sama bapak itu lho (sambil menunjuk petugas busway)." Nah, ini dia. Akhirnya ada juga orang yang sadar akan bahaya buang sampah sembarangan. Dalam hati gue bersyukur. Tapi belum habis rasa syukur gue tiba-tiba bapak itu bilang begini, "Kalo mau buang sampah di kali aja. Jangan buang disini. Kalo di kali boleh." ujar si ayah tampak yakin dan bangga. Jegeerr, antara pengen ketawa karena lucu atau miris, gue cuma bisa tersenyum kecut. Setidaknya gue mulai paham, sekarang gue ngerti kenapa Jakarta nggak pernah bisa bersih kaya kota-kota di negara lain. Gue kaget denger penjelasan si ayah tadi. 'Kalo di kali boleh.', kalimat ini diucapkan dengan penuh keyakinan oleh si ayah. Seakan itu memang tertulis di buku yang pernah dibacanya. Gue nggak ngerti darimana si ayah bisa punya pemahaman seperti itu. Cuma menurut gue ini meprihatinkan.
Jangankan berharap mereka ngerti soal Global Warming yang belakangan heboh wara-wiri di semua media. Untuk pengetahuan seputar membuang sampah aja, mereka masih belum tau. Apa yang mungkin bisa dilakukan?
Gue bisa mengaitkannnya dengan analogi, pohon yang semakin besar batangnya, akan semakin besar akarnya dan akan semakin sulit untuk ditebang. Sama halnya dengan kebiasaan,. pemikiran dan kepercayaan yang sudah lama mendarah daging dalam diri seseorang juga akan sulit diubah. Entah kenapa gue yakin, si ayah tadi meskipun diberitahu bahwa membuang sampah di kali itu tidak baik, nantinya pasti si ayah akan tetap bersikeras melawan dan terus menganggap bahwa membuang sampah di kali adalah sesuati yang wajar, sewajar membuang sampah di tempat sampah. Mungkin kali sudah menjadi semacam tong sampah mereka. .
Well, ini nggak bisa disalahkan. Wong, ini sudah berakar dan mendarah daging, mau diapain tetep aja susah. At the end, untuk siapapun yang menjadi duta lingkungan terutama dalam hal pencegahan global warming, gue cuma bisa bilang "Good luck. Tough job, bro!"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar